Selasa, 7 Februari 2012
Bursa EUROPE :FTSE 100* 5892.20 turun -8.87 atau -0.15% |DAX 6764.83 turun -1.84 atau -0.03%              Bursa U.S :DJIA 12845.13 turun -17.10 atau -0.13% |Nasdaq 2901.99 turun -3.67 atau -0.13%              Kompas TV di saluran bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv ( 23 UHF) Makassar, dan dewatatv ( 23 UHF) Bali.              KompasTV di saluran ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya              
Home  |  Kuliner  |  Profil
Rabu, 12 Agustus 2009 | 12:41 WIB
Menu Tegal untuk Kangen-kangenan
Warta Kota/Dian Aditya Mutiara

RUMAH Makan Wong Tegal yang terletak di Jalan Tanjung Duren, Jakarta Barat, ini dirancang dengan sasaran khusus. Paling tidak, resto ini memiliki pasar yang segmented, yakni orang-orang Tegal yang tak sempat mudik.

Nah, bagi masyarakat Tegal yang tidak sempat mudik, kehadiran rumah makan Wong Tegal ini tentu mempunyai arti tersendiri. Mereka bisa bernostalgia dengan makanan yang mungkin mereka sendiri sudah lama tidak memakannya atau sudah jarang ditemui.

Menurut Mintarya (nama aslinya Lauw Tjin Beng), bisa dikatakan rumah makannya menjadi ajang temu kangen orang asli Tegal yang tinggal di Jakarta. Hampir setiap hari ada orang yang sudah sepuh (tua) mampir untuk mencicipi makanan dan bertemu dengan sesama orang Tegal.

“Di sini kebanyakan yang datang orang-orang yang sudah tua. Kalau Sabtu dan Minggu mereka membawa serta keluarganya,” ujar Ayah tiga anak ini.

Meski rumah makan itu belum lama berdiri, menurut Mintarya, masakannya sudah cukup terkenal di kalangan orang ternama, seperti ahli kuliner Williem Wongso yang menyukai sate tegal, Mbak Tutut dan suaminya yang menyukai nasi bogana dan sate, Yohannes Bridal yang juga selalu pesan nasi bogana, dan pengusaha Johannes Kotjo juga penggemar nasi bogana.

Diakui, yang dikembangkan saat ini baru sebagian kecil dari makanan khas Tegal. Ini pun baru yang ada di perkotaan. Belum termasuk yang ada di pesisir. Ada yang disebut dengan kupat glabed, kupat bongkok yang terbuat dari tempe yang sudah agak lama.

“Wah kalau kami menyediakan kupat bongkok belum tentu disukai orang sini. Tapi kalau orang Tegal yang pulang kampung pasti mencari makanan itu, soalnya memang bikin kangen,” kata Meliana.

Sebelum membuka warung makan di Jakarta, Meliana pernah membuka warung nasi di Tegal. Awalnya tidak ada niat untuk membuka di Jakarta, hanya saja karena ketiga putrinya kuliah di Jakarta dan tidak mau pulang lagi, maka mau tidak mau mereka pun menyusul.

Selain nasi bogana dan nasi langgi, yang menjadi favorit juga udang pecak, yaitu udang peci yang digoreng hingga kering lalu dipenyet dengan sambal terasi. Disajikan dengan nasi yang hangat.

Rumah makan ini cukup sederhana, terletak di pinggiran jalan dan hanya berupa ruko. Di depannya terdapat lemari kaca untuk menyimpan gorengan tahu. Setiap hari buka pukul 09.00-21.00, hari Senin libur. (Dian Aditya Mutiara)

Rumah Makan Wong Tegal
Jalan Tanjung Duren Raya No 69 C, Jakarta Barat
Tidak jauh dari Pegadaian Cabang Tanjungduren

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved