Selasa, 7 Februari 2012
Bursa EUROPE :FTSE 100* 5892.20 turun -8.87 atau -0.15% |DAX 6764.83 turun -1.84 atau -0.03%              Bursa U.S :DJIA 12845.13 turun -17.10 atau -0.13% |Nasdaq 2901.99 turun -3.67 atau -0.13%              Kompas TV di saluran bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv ( 23 UHF) Makassar, dan dewatatv ( 23 UHF) Bali.              KompasTV di saluran ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya              
Home  |  Kota Hijau  |  Berita Hijau
Rabu, 6 Mei 2009 | 17:01 WIB
Nelayan Siluman Menghantui Dunia

Nairobi, Rabu

Saat ini banyak beredar "nelayan siluman" yang melalap banyak ikandan hasil laut lainnya. Demikian pernyataan badan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa- Bangsa (United Nation Environment Programme/UNEP), Rabu (6/5).

Tentu saja badan dunia tersebut bukan membicarakan hantu nelayan, melainkan alat-alat penangkap ikan dan binatang laut lainnya yang terlepas dari kapal nelayan saat terjadi badai, atau ditinggalkan pemiliknya begitu saja. Alat-alat itu rupanya tetap menjalankan fungsinya, menangkap ikan dan binatang laut, namun tanpa kendali. Hal ini menyebabkan jumlah ikan laut di seluruh dunia berkurang, dan memangkas pendapatan nelayan sungguhan.

"Penelitian menemukan alat-alat terbuang menangkapi hasil laut sampai 10 persen atau sekitar 640.000 ton ikan dan binatang laut lainnya," begitu bunyi pernyataan UNEP tersebut.

Penelitian yang dilakukan UNEP bekerjasama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO), juga menemukan semakin lama kerugian yang diderita dunia dari adanya nelayan siluman itu semakin parah. Hal itu disebabkan globalisasi penangkapan ikan dan semakin baiknya kualitas alat-alat penangkap ikan.

Salah satu alat yang mengakibatkan kerugian besar adalah pukat yang ditegakkan dengan memancangkananya ke dasar laut, dan pelampung di bagian atasnya. Pukat itu membentuk dinding di dasar laut yang akan menangkap binatang laut apa pun yang lewat di situ.

"Jika pukat tersebut terlepas dan hilang, ia akan tetap menangkapi ikan dan binatang lautnya selama berbulan-bulan, bahkan tahun," bunyi pernyataan UNEP. Masalahnya, ikan yang ditangkap akan tanpa seleksi termasuk anak-anak ikan, yang membahayakan kelangsungan hidup beberapa spesies ikan.

Masalah yang hampir serupa juga terjadi jika sebuah jenis alat perangkap kepiting hilang.

Masalah nelayan siluman ini akandibawa ke World Ocean Conference di Manado pada 11-15 Mei 2009, sehingga ditemukan solusinya. Pihak UNEP sendiri sudah memikirkan berbagai cara, antara lain dnegan memberi insntif bagi nekayan yang melaporkan kehilangan alat-alatnya di laut, pemasangan alat pemancar sinyal di peralatan menangkap ikan, sampai membuat alat-alat tersebut dari bahan yang mudah terurai di alam. (AFP/ink)

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved