
Dunia masak-memasak bukan hal baru bagi Abdul Wahid. Ia belajar memasak dan mengelola rumah makan dari orangtuanya yang memiliki warung makan khas Tegal alias warteg. Namun, Wahid tidak ingin mengikuti jejak orangtuanya, dengan alasan warung tegal segmennya sangat terbatas.
”Kalau warung tegal segmennya itu-itu saja. Kalau ayam bakar bisa naik kelas,” kata anak kedua dari pasangan H Darto dan Hj Djaiyah ini.
Selepas SMA, Wahid masih enggan bekerja mengikuti tradisi. Ia malah ikut kursus montir dan bekerja di bengkel selama empat tahun. Namun selama itu hatinya gelisah. Pasalnya, pendapatan yang diperoleh dari montir hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer saja. Sementara ia melihat orangtua dan kerabatnya memiliki uang yang lebih dengan memiliki usaha rumah makan.
Dengan modal sekitar Rp 4 juta yang berasal dari tabungan dan bantuan orangtua, Wahid memberanikan diri membuka usaha ayam bakar kaki lima di bilangan Fatmawati, Jaksel. Setelah beberapa bulan ia justru menyerahkan pengelolaan ke kerabatnya dan mencari lokasi baru yang lebih pas. Sebelum di Kebayoran Lama, setidaknya ia berpindah-pindah hingga 7 lokasi namun seterusnya diserahkan ke kerabatnya. Sejak 2001, ia menetap di Kebayoran Lama dan bertahan sampai sekarang.
”Dari seluruh lokasi di mana saya pernah jualan, di sini paling bagus karena perputaran uangnya cepat. Di sini banyak kos-kosan dan juga penjual bunga, jadi mereka mengeluarkan uangnya gampang,” kata Wahid yang menyewa tempat untuk rumah makannya Rp 30 juta per tahun.
Keberhasilan Wahid mengelola rumah makan ayam bakar mendorong banyak kerabatnya ikut-ikutan membuka usaha ayam bakar. Selain ketujuh lokasi yang dikelola kerabatnya, kerabat lainnya, termasuk saudara kandungnya Sueni dan Ahmad Fatoni, juga mengikuti jejaknya, banting stir menjadi penjual ayam bakar. Padahal keduanya dulu kerja kantoran dan sekolah sampai setingkat sarjana. (Lilis Setyaningsih)