
Palembang, Jumat
Pemerintah Kota Palembang telah megembangkan 100 sekolah untuk menjadi bank sampah, yang maksudnya mampu menangani sampah mereka sendiri secara benar.
Setiap sekolah tersebut akan menerima modal Rp 300.000 untuk memulai pengumpulan sampah masing-masing, demikian diutarakan Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Pemkot Palembang, Abubakar Kemas, Jumat (17/4).
Menurut Abubakar lagi, modal itu harus dipakai oleh pengurus OSIS atau koperasi setiap sekolah untuk membeli sampah yang dikumpulkan para murid.
"Selanjutnya sampah-sampah itu lalu dijual ke lapak pemulung," kata Abubakar.
Jenis sampah yang bisa dibeli oleh OSIS atau koperasi tentu saja bukan sampah organik, melainkan sampah nonorganik yang bisa didaurulang, seperti kertas dan botol plastik. Untuk itu pemkot akan menyuplai tong sampah untuk menampung sampah yang sudah dibeli.
"Dana yang kami bagikan ke setiap sekolah itu merupakan sumbangan dari PT Pupuk Sriwijaya, dan merupakan bentuk dari kegiatan CSR (corporate social responsibility) mereka," ujar Abubakar.
Bank sampah ini, kata Abubakar, merupakan salahsatustrategi yang dilakukan Pemkot Palembang untuk memenangkan kembali Piala Adipura.
"Sekolah yang bersih merupakan salah satu komponen penilaian, selain perkantoran, jalan, dan pasar," ujar Abubakar. (Antara/ink)