
Jakarta, Kamis
Enam kepala negara dan pemerintahan negara yang tergabung dalam Coral Triangle Initiative/CTI (kawasan segitiga terumbu karang) dipastikan menghadiri pertemuan puncak CTI di Manado, Sulawesi Utara, Mei 2009.
Hal itu dikemukakan oleh Ketua Nasional Panitia Pelaksana World Ocean Conference (WOC) dan CTI Summit, Indroyono Susilo, Kamis (16/4).
"Perdana Menteri Malaysia Najib Razak baru saja menyampaikan konfirmasi kehadirannya, jadi seluruh kepala negara akan hadir," katanya.
CTI adalah suatu inisiatif gerakan kawasan untuk melindungi terumbu karang di daerah yang mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Kepulauan Solomon, dan Papua Nugini.
CTI terbentuk atas inisiatif Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, yang disampaikan pertama kali dalam forum APEC di Australia, September 2007. Saran itu memperoleh dukungan dari para pemimpin APEC.
Segitiga terumbu karang yang masuk dalam wilayah enam negara itu mencapai luas 75.000 kilometer persegi yang memiliki 500 spesies terumbu karang dan dihuni lebih dari 3000 spesies ikan. Keberadaan terumbu karang itu dikenal sebagai Amazon of The Seas karena memiliki keanekaragaman hayati paling kaya di bumi.
Terumbu karang di area tersebut juga merupakan sumber penghidupan bagi 120 juta penduduknya, tempat pemijahan ikan tuna, dan sumber ekonomi regional dengan perkiraan perputaran uang mencapai 2,3 miliar dolar AS per tahun.
WOC
Sementara itu, guna menjembatani Provinsi Sulawesi Utara mempromosikan aset daerah dan mensosialisasikan WOC yang akan diselenggarakan di Manado, 11-15 Mei 2009 kepada para duta besar negara sahabat, Departemen Luarnegeri (Deplu) menggelar "Updates From The Region: Toward WOC and Beyond: North Sulawesi and Economic Opportunities".
Menurut Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda, melalui acara itu berbagai aset dan kekuatan ekonomi yang dimiliki Sulawesi Utara diharapkan mampu menarik minat investor asing untuk menanamkan modalnya.
"Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di wilayah timur Indonesia yang memiliki potensi sumber daya alam yang tinggi dengan komoditi unggulan seperti cengkeh, kopra, cokelat, dan kelapa sawit, selain tentu saja sektor perikanan dan pariwisata," katanya.
Terkait dengan pelaksanaan WOC, Menlu membantah jika hasil pertemuan internasional tersebut nantinya tidak akan memberi banyak manfaat bagi kelestarian laut karena deklarasi yang dihasilkan tidak bersifat mengikat.
Dia mengatakan bahwa sebuah kesepakatan internasional yang bersifat tidak mengikat bukan berarti sia-sia atau tidak berguna. Hassan mencontohkan keputusan Sidang Majelis Umum PBB yang juga bersifat tidak mengikat namun memiliki pengaruh yang besar.
Menlu menjelaskan bahwa hal yang dibahas dalam WOC memiliki keterkaitan dengan pembahasan mengenai perubahan iklim. Forum WOC juga merupakan forum pertama yang membahas mengenai kelestarian sumber daya kelautan.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo H Sarundajang, memaparkan kesiapan Sulawesi Utara untuk menggelar penghelatan besar yang disebut-sebut akan dihadiri ribuan delegasi baik pemerintah, pengusaha maupun organisasi nonpemerintah dari berbagai dunia itu. (Antara/ink)