Selasa, 7 Februari 2012
Bursa ASIA :Hang Seng 20699.19 turun -10.75 atau -0.05% |Nikkei Average 8917.52 turun -11.68 atau -0.13% |Shanghai Composite 2291.90 turun -39.23 atau -1.68% |BSE Sensex 17601.27 turun -106.04 atau -0              Kompas TV di saluran bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv ( 23 UHF) Makassar, dan dewatatv ( 23 UHF) Bali.              KompasTV di saluran ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya              
Jumat, 3 September 2010 | 20:20 WIB
SBY: Pindah Ibu Kota Solusi Atasi Kemacetan
Kompas.com/Dhoni Setiawan

Jakarta, Warta Kota

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali mewacanakan pemindahan ibu kota sebagai salah satu solusi memecahkan kepadatan Jakarta yang dinilai tak tertahankan lagi.

Pertambahan volume kendaraan, jumlah penduduk, dan ditengarai sebagai salah satu biang keladi kepadatan di Jakarta.

"Salah satunya, sama sekali membangun ibu kota yang baru, the real capital, the real government center, seperti Canberra, Brasilia, Ankara, dan tempat-tempat yang lain," kata Presiden pada acara berbuka puasa bersama pengurus Kamar Dagang Indonesia, Jakarta, Jumat (3/9).

Selain itu Presiden mengajukan dua opsi lainnya. Selain mengajukan perbaikan infrastruktur Jakarta, Kepala Negara juga mengajukan usul pemisahan antara pusat pemerintahan dan perdagangan.

"Kita bisa membandingkan dengan apa yang dilakukan Malaysia. Ibu kota Malaysia tetap Kuala Lumpur, tapi pusat pemerintahan di Putrajaya. Dipisahkan, cut off. Tetapi tentu ada komunikasi yang baik. Berkembanglah Putrajaya," kata Presiden.

Presiden meminta agar ketiga opsi tersebut diputuskan dan dipersiapkan sejak dini.

"Kita putuskan sekarang ini. Misalnya opsi kedua dan tiga, kita membangun pusat pemerintahan baru, maka 10 tahun dari sekarang baru bisa dilakukan berdirinya pusat pemerintahan yang baru yang sudah terencana dengan design yang bagus dan memenuhi syarat-syarat sebagai pemerintahan yang baik," kata Presiden.

Dilanjutkan Presiden, "Kalau kita bicara opsi dua misalnya, biarkan Jakarta diploklamirkan. Kita pertahankan sebagai ibu kota, ekonomi, perdagangan , dan semua kita bangun tempat yang baru sebagai pusat pemerintahan. Nah kalau kita membangun baru tentu well-planned, well-designed, kemudian kita hitung keindahan aspek lingkungan, dan lain-lain.

"Kita barang kali butuh waktu 5-7 tahun untuk membangunnya. Itu by project. Putrajaya menghabiskan uang sekitar Rp 80 T. Kalau kita ingin bangun seperti itu dengan cakupan yang lebih luas, could be more. (Dana) dari mana? Mungkin dari APBN sebagian, sebagian partnership, govement dengan publik, sebagian mungkin bisa melepas aset pemerintah yang ada di Jakarta. Kemudian kita bangun yang baru," kata Presiden.

Presiden menambahkan, sekiranya opsi kedua atau ketiga, hal tersebut membutuhkan kerja sama pemerintah dan pihak swasta atau pengusaha.

"Saya berandai-andai kalau itu dibangun, tentu 90 persen dilakukan oleh pengusaha dalam negeri. Barang kali material yang kita impor dibatasi tidak lebih 10 persen. Kita harus think big, kemudian melakukan sesuatu dengan seksama. Ini yang ingin saya sampaikan di forum mulia ini," katanya. (luc/Kompas.com)

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved