
Shanghai, Jumat
Kelompok Uni Eropa menekan China agar memegang janjinya untuk memerangi pemalsuan, dan melakukan sesuatu agar aliran barang palsu ke Eropa berhenti.
Kepala Komisi Pajak, Cukai, dan Antipemalsuan Uni Eropa, Algirdas Semeta, meminta pihak China dalam sebuah pertemuan di Shanghai, Jumat (3/9), agar segera melakukan aksi nyata dari rencana yang ditandatangani antara kedua belah pihak pada tahun lalu.
"Singkatnya, kami sudah membuat sebuah rencana yang bagus sekali, tapi implementasi dari rencana itu tak cukup," kata Semeta sebelum membuka pertemuan komite kerja sama Bea Cukai Uni Eropa dan China.
Tahun lalu, sebagian besar produk impor di Uni Eropa berasal dari China. Bersama itu masuk pula barang-barang palsu ke 27 negara Uni Eropa. Tercatat 64 persen barang palsu yang ditemukan di Eropa berasal dari China, menurut kelompok tersebut.
Seiring dengan tumbuhnya industri di negara tirai bambu itu, pemalsuan merek turut berkembang. Sekitar 90 persen sepatu bermerek palsu, 81 persen barang elektronik palsu, 72,5 persen pakaian dan aksesoris palsu di dunia berasal dari China.
Bagian dari kerja sama Uni Eropa dan China soal perlindungan hak kekayaan intelektual itu adalah berbagi informasi untuk mencegat kapal-kapal kargo pembawa barang palsu, dan penggerebegan jaringan pemalsuan.
"Kami memberikan 55 kasus ke China, tapi hanya menerima 5 dari pihak China. Berarti implementasi program ini perlu upaya lebih," kata Semeta.
Sebagai negara yang tergantung dengan hasil perdagangannya, melemahnya kontrol di China menyebabkan volume barang palsu meningkat. Semeta juga menjelaskan, pemalsuan itu juga menimpa perusahaan China. Contohnya, tahun lalu pihak berwenang Jerman menangkap dua kapal berisi barang palsu yang menggunakan nama sebuah perusahaan China yang menghasilkan produk ramah lingkungan.
"Dalam tindakan-tindakan kami sering menemukan merek China yang juga dipalsukan. Bisnis China yang resmi juga menjadi korban," katanya.
Banyak negara, terutama Amerika Serikat, telah bertahun-tahun menuduh China telah melakukan tindakan-tindakan ilegal lain selain merampas hak kekayaan inteletual. Tuduhan itu berdasarkan keluhan berbagai pengusaha yang bekerja sama dengan pengusaha China, di mana penjualan mereka merosot sampai miliaran dolar, dan berdampak pula pada angka pengangguran.
"Lingkup masalah ini sangat luas dan tak mudah diputus begitu saja. Tujuan kami adalah mengajukan standar baku kepada Pemerintah China bagaimana masalah ini dihadapi," kata Semeta.
Dia juga mengatakan akan membawa undang-undang antipemalsuan sebelum akhir tahun ini, untuk memperkuat pihak Bea Cukai Uni Eropa. Kepala Komisi Internal Market Uni Eropa, Michel Barnier, juga sedang membuat standar yang berbeda," imbuh Semeta.
"Negara Uni Eropa itu tergantung pada inovasi, design, merek, dan merek dagang. Bisnis kami berinvestasi banyak di sini. Ini benar-benar sangat penting," kata Semeta. (AFP/ink)