Selasa, 7 Februari 2012
Bursa EUROPE :FTSE 100* 5892.20 turun -8.87 atau -0.15% |DAX 6764.83 turun -1.84 atau -0.03%              Bursa U.S :DJIA 12845.13 turun -17.10 atau -0.13% |Nasdaq 2901.99 turun -3.67 atau -0.13%              Kompas TV di saluran bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv ( 23 UHF) Makassar, dan dewatatv ( 23 UHF) Bali.              KompasTV di saluran ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya              
Jumat, 3 September 2010 | 14:37 WIB
Jual Hasil Kerajinan Tangan Lewat Mobile Gallery
Warta Kota/Ichwan Chasani

APA yang dilakukan pasangan Andrew Wang (56) dan Rilexya Monalisa (41) barangkali masih jarang dilakukan orang lain. Menggunakan satu unit VW Combi yang catnya sudah mulai memudar, mereka berjualan aneka kerajinan tangan dari berbagai daerah di negeri ini. Mereka menyebutnya mobile gallery.

Mobil itu terparkir di salah satu sudut halaman kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, pekan lalu. Di dalamnya tertata lebih 250 item jenis barang kerajinan tangan. Patung-patung kucing dari bahan kayu kelapa terlihat dalam berbagai ukuran. Ada juga berbagai bentuk peralatan terapi pijat dari kayu jati dan sonokeling.

Bahan yang digunakan pun bervariasi, dari berbagai jenis kayu, rotan, plastik sintetis. Bahkan berbagai kemasan yang didaur ulang dan dibentuk menjadi model yang menarik, seperti tas yang dibuat dari voucher gosok telepon seluler dari berbagai provider, juga dompet dan burung merak tiruan yang terbuat dari kaleng bekas minuman ringan.

Andrew juga menjual sebagian dari benda-benda koleksi pribadi yang dimiliki seperti patung gajah berbagai ukuran, dan berbagai bentuk topeng. Sebagian koleksi pribadi itu berusia puluhan tahun karena telah dikumpulkannya sejak era 1970-an. Bahkan sebagian koleksi dari bahan kayu pun sudah membatu karena kerasnya.

“Sejak umur 20-an, sudah lebih dari setengah wilayah Indonesia saya jelajahi, sebagian sampel kerajinan itu saya bawa dan pasarkan ke luar negeri,” tutur lelaki asal Pejagalan, Semarang, Jawa Tengah ditemui Warta Kota pekan lalu.

Sebagai pasangan, Andrew—Rilexya sudah kenyang pengalaman hidup di negeri orang. Andrew pernah mengelola sendiri perusahaannya di Amerika untuk mendatangkan berbagai jenis kerajinan dari Indonesia. Sudah lebih 25 tahun dia menekuni dunia kerajinan tangan itu. Dia memutuskan kembali ke Indonesia pada 2006 lalu dan memulai lagi usahanya.

Dia sengaja menggunakan mobil untuk mendekatkan langsung kepada para calon pembeli. “Saya lihat orang-orang jualan di emperan kena gusur. Pakai gerobak, tidak enak dipandang. Kebetulan di rumah masih ada mobil, ya sudah saya pakai mobil saja,” tutur Andrew.

Andrew juga mengungkapkan ada kegelisahan tersendiri yang dialaminya terkait dunia kerajinan di negeri ini. Menurutnya, apa yang sering diberitakan bahwa produk UKM (usaha kecil dan menengah—Red) akan disalurkan, ternyata tak sesuai realita. Ibarat menolong orang kecelakaan, kata dia, pemerintah hanya mengantarkan korban kecelakaan itu ke rumah sakit terdekat.

“Selebihnya silakan pasien mengurus sendiri biaya dan keperluan lainnya. Jadi menolongnya itu setengah-setengah. Kalau mau menolong semestinya dari sejak permodalan sampai ke pemasaran,” kritiknya.

Selain mengandalkan mobile gallery, pasangan ini juga memasarkan sebagian barang kerajinan tangan itu di tiga outlet yang tersebar di Pondokindah, Kemang, dan Jalan Darmawangsa, Jakarta Selatan.

“Peran kami hanya menyambungkan antara perajin dengan pembeli. Kalau ada pembeli potensial yang butuh dalam jumlah besar, kami sarankan menghubungi langsung perajinnya,” timpal Rilexya yang lahir dan besar di Jerman itu. (ichwan chasani)

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved