Selasa, 7 Februari 2012
Bursa ASIA :Hang Seng 20699.19 turun -10.75 atau -0.05% |Nikkei Average 8917.52 turun -11.68 atau -0.13% |Shanghai Composite 2291.90 turun -39.23 atau -1.68% |BSE Sensex 17601.27 turun -106.04 atau -0              Kompas TV di saluran bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv ( 23 UHF) Makassar, dan dewatatv ( 23 UHF) Bali.              KompasTV di saluran ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya              
Home  |  Seks & Seksi  |  Kesehatan
Rabu, 1 September 2010 | 12:58 WIB
Pekerja Kantoran Rentan Terkena Kencing Batu
Istimewa

PEKERJA kantoran berpotensi mudah terkena penyakit kencing batu atau dalam istilah kedokteran penyakit batu saluran kemih. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah mereka sering duduk, sehingga cenderung kurang banyak bergerak dan minum.

Itu dikatakan oleh dr Gideon FP Tampubolon, Spesialis Bedah Saluran Kemih, di RS Premier Bintaro pekan lalu.

"Memang belum ada data pasti, tapi dari beberapa pasien yang kami tangani kebanyakan berasal dari kalangan pekerja kantoran," kata Gideon.

Selain itu orang yang jarang bergerak seperti orang yang lumpuh, terkena stroke pun, juga bisa terkena kencing batu. Kurangnya aktivitas yang dilakukan itu akan berpengaruh pada asupan air minum yang dibutuhkan. Umumnya jadi malas untuk minum air putih yang banyak karena merasa tidak haus.

Saat ini jumlah penderita batu saluran kemih adalah dua hingga tiga persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Dan penyakit itu didominasi oleh pria ketimbang wanita. Mengapa? Hormon estrogen yang ada di dalam tubuh wanita lebih tinggi sehingga keberadaan hormon itu bisa menghambat terbentuknya batu pada saluran kemih.

Banyak faktor yang saling berkontribusi menjadi penyebab batu ginjal, kata Gideon, antara lain unsur pembentuk batu seperti kalsium, oksalat, fosfat, asam urat. Selain itu batu ginjal bisa juga terjadi karena infeksi pada saluran kemih dan adanya kuman tertentu yang bisa mempengaruhi PH urine.

Gejala dari kencing batu ini biasanya ditandai dengan kencing berdarah, nyeri pinggang yang kemudian menjalar ke perut, ke bawah, lipat paha, buah pelir (pada pria). Selain itu, saat kencing terasa keluar berpasir, serta nyeri pada saat kencing dan kadang disertai demam.

Pencegahan

Minum banyak air putih adalah tips paling gampang. Produksi urine akan bertambah, sehingga risiko endapan mengalami kristalisasi dan bisa membantu ikut terbuang bersama urine. Standar kebutuhan air pada manusia biasanya mengikuti rumus 30 cc/ kilogram berat badan/hari.

Misalnya, berat badan orang adalah 60 kg, maka membutuhkan asupan air minum sebanyak 1,8 liter/hari. Kebutuhan air itu bisa dipenuhi dengan rajin memakan makanan yang banyak mengandung air, seperti sayur dan buah. Serta hilangkan kebiasaan menahan buang air kecil.

Kebanyakan batu terbentuk dari kalsium, maka semua menu yang kaya akan kalsium seperti susu, keju, cokelat, kacang, bayam, ikan salmon, sarden perlu dibatasi.

Selain itu, jangan berlebihan mengonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D dosis tinggi. Suplemen itu dipromosikan mencegah osteoporosis, namun justru berbahaya karena menimbulkan batu kalsium bila dikonsumsi di luar waktu makan.

Batu ginjal juga bisa terbentuk dari asam urat, maka menu protein yang banyak kandungan purine (jeroan, daging, makanan kaleng, kacang-kacangan, terigu) perlu dikurangi. Kurangi asupan makanan dan minuman yang dapat membuat PH urine menjadi asam.

Seperti asupan protein hewani yang berlebihan, jus apel, jus anggur, dan jus tomat. Jika PH urine turun, reabsorbsi kalsium dalam ginjal berkurang sehingga kadar kalsium urine naik.

Pemeriksaan batu saluran kemih bisa dilakukan dengan cara, melihat dahulu riwayat kesehatan keluarga, apakah ada yang pernah mendapatkan penyakit yang sama atau tidak. Lalu dilakukan pemeriksaan fisik, laboratorium, USG, dan CT scan.

Selama ini untuk mengobati kencing batu, selain bisa dengan minum obat, atau dengan melalui operasi atau pembedahan. Saat ini ada alat yang lebih canggih yang disebut dengan Extracopreal Shock Wave Lithoptripsy (ESWL).

Operasi dengan alat itu adalah memecahkan batu dari luar tubuh dengan menggunakan gelombang kejut. Tindakan itu dapat dilakukan pada batu ginjal dengan ukuran 4-20 mm dengan fungsi batu ginjal yang masih baik. Dan, kata Gideon, pasien tidak perlu melakukan rawat inap. (Dian Anditya Mutiara)

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved