
Pondokindah, Warta Kota
MEMASUKI minggu ketiga Ramadan penukaran uang receh baru secara perorangan bermunculan. Bukan cuma di kawasan Kota, Jakarta Barat, para penjual juga mangkal di sepanjang Jalan Metro Pondokindah, Jakarta Selatan. Mereka bisnis penukaran uang receh sejak pukul 08.00 sampai pukul 18.00.
Umumnya masyarakat menukar uang di jalanan karena malas antre di teller bank. Cukup duduk di jok sepeda motor atau dari balik pintu mobil, uang dengan mudah ditukar.
“Saya malas antre di bank, beda sedikit, bisa tukar sambil pulang. Enggak repot-repot cukup duduk di motor beres,” ujar Syahrial (30), warga Pondokcabe, Pamulang, yang ditemui Warta Kota di Jalan Metro Pondokindah, kemarin.
Dia mengungkapkan, uang receh itu untuk dibagikan kepada anak-anaknya dan keponakannya saat Lebaran nanti.
Syahrial yang memerlukan uang receh baru Rp 300.000 cukup menyetorkan Rp 315.000 atau selisih Rp 15.000. Selisih harga itu yang dipatok pedagang.
Sementara itu, penyedia uang receh bernama Jhon mengatakan, untuk menjajakan uang recehan, dia membawa pecahan Rp 20.000, Rp 10.000, Rp 5.000, dan Rp 2.000. Dia biasa membawa uang belasan juta dalam bentuk pecahan. Uang itu dipinjam dari temannya. Upahnya diperoleh dari selisih penukaran uang. “Saya tinggal jalan saja, tidak tahu kapan dan di bank mana orangnya menukar uang ini,” ujarnya.
Pengakuan Jhon itu dibenarkan Rita (40), salah seorang wanita penjaja uang receh baru. Wanita itu mengatakan, semua keuntungan menjual uang receh sebagian diserahkan kepada pemilik uang. “Kami diupah saja, tidak tentu dapat bagian berapa. Kalau lagi untung bisa Rp 100.000 per hari atau lebih, namanya usaha,” tegasnya.
Kebanyakan para penjaja uang receh baru itu mengaku hanya sebagai “karyawan”, namun beberapa orang ada yang mengaku milik sendiri. Seperti yang dilakukan Nico, pria yang menjajakan uang receh baru di Terminal Bus Lebakbulus. “Ya, tapi saya modal kecil, paling cuma Rp 5 juta,” katanya. (Yoseph Suhirno)