
APA reaksi Anda sebagai orangtua jika mendapat pertanyaan dari putri Anda yang masih duduk di bangku sekolah dasar, soal selaput dara. Apakah Anda langsung katakan hus...hus...hus masih kecil, dan cenderung menghindari pembicaraan itu? Jika iya, Anda termasuk orangtua yang menganggap tabu bicara soal seks dengan anak. Padahal anak layak dibekali pengetahuan soal seks.
Psikolog Sani B Hermawan mengatakan, banyak orangtua yang belum memahami manfaat dan tujuan dari pendidikan seks. Ada yang menganggap pendidikan seks itu tidak diperlukan karena memancing anak ke arah negatif.
"Dialog seks perlu dibangun dalam keluarga, dan anak sedini mungkin dikenalkan sesuai tahap perkembangan kedewasaan mereka," kata Sani saat talkshow 'Cara Cerdas Menjawab Pertanyaan Anak Soal Seks' yang diadakan Frisian Flag di JCC, beberapa waktu lalu.
Sani mengakui, adakalanya orangtua sulit terbuka dan memulai dialog soal seks kepada anak, karena beberapa hal. Seperti adat budaya timur yang cenderung tabu membicarakan seks. Belum memahami manfaat apa yang akan diperoleh anak terhadap pendidikan seks itu. Orangtua juga bingung materi apa yang akan diberikan kepada anak. Dan takut anak justru semakin tertarik pada masalah seksual.
Padahal saat ini informasi dengan mudah diperoleh dari manapun, termasuk soal seks. Jika tidak mendapat bekal pengetahuan dari orangtuanya, anak-anak terutama remaja akan mencari informasi itu dari teman atau media lain yang belum tentu benar.
Menurut Sani, bila ada remaja yang ingin menonton video porno itu menjadi salah satu tanda minimnya pendidikan seks waktu kecil. Bila sudah tahu, remaja itu akan tahu bahwa adegan itu tidak layak ditonton untuk remaja.
Minimnya pendidikan soal seks itu memunculkan beberapa kasus di masyarakat. Seperti kasus pelecehan, kekerasan, dan manipulasi seksual pada anak, hubungan seks pranikah, dan lain-lain.
Kasus itu bisa dicegah, jika anak sejak dini sudah dibekali pendidikan seks. "Menjadi tantangan orangtua bagaimana membekali anak-anak untuk menghindari fakta-fakta itu," kata Direktur Lembaga Konsultasi Psikologi Daya Insani itu.
Dia mengatakan, pendidikan seks itu bukanlah pendidikan tentang hubungan seks. Tetapi upaya pengajaran, penyadaran, dan pemberian informasi tentang masalah seksual.
Salah satu informasi yang diberikan adalah pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, komitmen agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi itu.
"Pendidikan seks dapat dikatakan sebagai cikal bakal pendidikan kehidupan berkeluarga yang memiliki makna sangat penting," kata Sani.
Orangtua harus mengajarkan dengan bahasa yang ilmiah dan bukan perumpamaan. Misalnya untuk menyebutkan genital laki-laki sebut saja penis bukan burung. Sementara genital perempuan dengan sebutan vagina bukan apem atau lainnya.
Sani menyontohkan ada seorang ibu yang merasa khawatir melihat kebiasaan anak balitanya yang suka memegang alat kelaminnya. Sudah dilarang namun kebiasaan itu tetap saja dilakukan.
"Pada usia 2 - 3 tahun, anak telah mengeksplor bagian-bagian tubuhnya, termasuk daerah genital," kata Sani.
Seorang ibu bisa menjelaskan hal itu dengan baik-baik tanpa marah-marah tentunya. "Dek, bagian itu sensitif, kalau dijepit pakai guling atau dipegang nanti luka. Kalau luka nanti berdarah. Nggak mau kan." (Lilis Setyaningsih)