
Malang, Warta Kota
Mantan Presiden Jusuf Kalla menyatakan bahwa titik lemah Indonesia saat ini adalah bidang ekonomi, yang belum mampu menyejahterakan masyarakat secara luas dan merata.
"Berbagai bidang sudah terlayani dan terpenuhi dengan baik, seperti bidang kesehatan, pendidikan, politik. Namun perekonomian kita masih sangat lemah, sehingga menjadi titik lemah negeri kita," kata Jusuf Kalla ketika menjadi pembicara dalam "Kajian Ramadhan" di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (28/8) malam.
Menurut Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) itu, hal itu bisa terjadi karena tidak banyak umat Islam yang menguasai persoalan terkait perekonomian. Akibatnya, tegas Jufuf Kalla, perekonomian Indonesia sampai sekarang masih didominasi oleh kaum non-Muslim terutama etnis Tionghoa (China).
Selain yang menguasai bidang ekonomi sangat rendah, katanya, masyarakat Indonesia pada umumnya lebih memilih menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau profesi lainnya ketimbang menjadi pengusaha.
Oleh karena itu, lanjutnya, umat Islam dan masyarakat Indonesia harus mulai bangkit menggali semua potensi ekonominya, sebab potensi ekonomi ini merupakan suatu kemutlakan yang harus dilakukan.
Dia mengibaratkan bahwa memulai usaha seperti berenang, di mana untuk menjadi mahir harus belajar. Demikian juga dengan usaha yang harus dimulai, tanpa ada niat memulai pasti tidak akan pernah bisa menjadi pengusaha.
"Kalau kita tidak belajar dulu secara teori dan dipraktikkan menjadi seorang pengusaha, kita tidak akan pernah bisa menjadi pengusaha termasuk pengusaha dalam bidang perdagangan," ujarnya menambahkan.
Dia mengatakan, Rasulullah dulu seorang pedagang. Bahkan masuknya Islam ke Indonesia juga melalui perdagangan, kenapa pondasi yang sudah ada itu tidak dikembangkan lagi untuk menjadi lembaga atau negara yang mandiri.
Senada dengan Jusuf Kalla, mantan Mendiknas yang juga sesepuh Muhammadiyah Prof A Malik Fajar mengatakan, menggerakkan perekonomian harus dimulai dengan niat.
"Niat dan memulai berwirausaha itu memang sulit, tapi memulai itu sudah menjadi modal berharga, dan menjadi pondasi yang kuat bagi berkembangnya perekonomian yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas," katanya. (Antara/ink)