Selasa, 7 Februari 2012
Bursa EUROPE :FTSE 100* 5892.20 turun -8.87 atau -0.15% |DAX 6764.83 turun -1.84 atau -0.03%              Bursa U.S :DJIA 12845.13 turun -17.10 atau -0.13% |Nasdaq 2901.99 turun -3.67 atau -0.13%              Kompas TV di saluran bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv ( 23 UHF) Makassar, dan dewatatv ( 23 UHF) Bali.              KompasTV di saluran ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya              
Home  |  TaMu
Kamis, 1 Juli 2010 | 19:19 WIB
tim Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta
Jalan Rusak di Jalur Pantura
Kompas.com/Fikria Hidayat

Cirebon, Warta Kota

Perjalanan dari Pekalongan menuju Cirebon dengan jarak 140 km, Kamis (1/7), kami tempuh selama tujuh jam. Sekalipun jalan pantai utara relatif mendatar dan lurus, kami tetap harus waspada karena banyak jalan berlubang dan perbaikan jalan di sejumlah titik.

Pukul 07.10 saat mendung masih menggelayut setelah hujan semalam, kami tinggalkan Pekalongan. Keluar dari kota batik itu hujan rintik-rintik turun dan kondisi seperti itu bertahan hampir sepanjang perjalanan.

Begitu keluar dari batas kota, kami langsung berhadapan dengan jalan rusak. Pleton sepeda berjalan beriringan dalam dua baris dengan kecepatan rata-rata 25 km/jam. Seringkali kami harus berjalan zigzag menghindari lubang jalan berukuran mulai dari 50 cm hingga hampir 1 meter.

Kapten tim Marta Mufreni sudah mengingatkan agar kami jangan sampai terlena dengan jalur pantura yang datar dan lurus. ”Harus tetap waspada karena justru di jalan seperti ini bahaya untuk senggolan ban lebih besar,” tuturnya.

Kenyataannya perjalanan di jalan mendatar itu memang membosankan. Kami juga harus melawan angin samping. Bahaya juga muncul dari lalu lalang truk dan bus besar yang melintas di samping kami dengan kencang. Debu yang beterbangan terasa semakin menyesakkan napas. Kami terpaksa bersepeda sambil mengenakan masker.

Sekalipun kami bergerak dengan pengawalan polisi, di jalur pantura apapun bisa terjadi. Truk dan bus yang melintas di samping melaju dari belakang, di luar jangkauan pandangan kami yang terkadang harus berjalan zigzag menghindari lubang jalan. Maka kami terus saling mengingatkan teman yang ada di depan, termasuk untuk menghindari lubang yang ada di jalan.

Sawah menghijau

Musim hujan masih berlangsung di wilayah Pantai Utara Pulau Jawa. Di sepanjang jalan, persawahan dan tanaman bawang merah tampak menghijau. Tidak ada bayangan kekeringan akibat kemarau panjang yang biasanya sudah melanda Pulau Jawa pada pertengahan tahun ini.

Sebelum memasuki kota Tegal, ada proyek perbaikan jalan yang mengakibatkan terjadi antrean kendaraan mencapai 15 kilometer panjangnya. Berkat pengawalan Satuan Patroli dan Pengawalan dari Mabes Polri kami bisa lolos dari kemacetan tersebut.

Kondisi jalan yang buruk terus terjadi hingga memasuki kota Brebes. Beruntung kami siap mengantisipasi jalan buruk itu dan tidak terjadi insiden apapun.

Setelah 10 hari menempuh perjalanan panjang bersepeda, stamina tim mulai menurun. Sebagian besar anggota tim terserang flu atau radang tenggorokan. Dokter dari RS Internasional Bintaro pun memberi kami obat flu.

Serangan flu itu juga membuat saya sangat mengantuk dalam bersepeda. Sekuat tenaga saya berusaha menjaga kesadaran dengan mengubah-ubah posisi duduk, meminta makanan kepada tim pendukung, dan sebagainya. Saat akhirnya kami berhenti untuk istirahat setelah jalan 100 km, lega sekali rasanya.

Darah di telapak kaki saya rasanya mendidih karena terlalu lama mengayuh. Tapi sudah sejak awal perjalanan dulu kami tak pedulikan rasa sakit yang mendera karena terlalu lama mengayuh sepeda. Kami menganggapnya bagian dari perjalanan yang harus diterima sehingga bisa lebih rileks menyelesaikan etape demi etape Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta ini.

Di Cirebon telah berdiri panggung acara hiburan di depan Hotel Santika. Kedatangan kami disambut musik rebana dan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang. Besok kami akan menempuh etape sembilan Cirebon-Bandung sejauh 120 km. (Max Agung Pribadi)

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved