
Semarang, Warta Kota
Tim Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta menyelesaikan perjalanan etape ketujuh dari DI Yogyakarta menuju Semarang, Selasa (29/6). Perjalanan relatif lancar dan tidak ada kesulitan yang menghadang perjalanan sejak start dari Yogyakarta pukul 7.30.
Kami dilepas oleh Kapoltabes DIY AKBP Atang S dan diantar ratusan anggota komunitas sepeda onthel, Jogja Folding Bike, dan komunitas pesepeda Brimob DIY.
Dalam perjalanan ke Semarang sejauh 118 km ini kami mendapat teman tambahan yaitu empat orang anggota Bike To School Jakarta. Sehari sebelumnya mereka bersepeda dari Solo ke Yogyakarta.
Keempat anak muda itu, Emir Faruqi (SMAN 98), Wahyutomo Aditya, Adrian Immanuel (keduanya dari SMA Charitas), dan Aldy (SMAN 28) berangkat dari Solo pukul 13.00 dan tiba di Yogyakarta pada pukul 18.00 setelah mampir di Candi Prambanan. Malam harinya mereka ikut menikmati pertunjukan tiga gitaris andal yang tergabung dalam Trisum yaitu Dewa Bujana, Balawan, dan Tohpati pada malam syukuran HUT Kompas di Hotel Vredeburg.
Empat awak BtS ini bergabung bersama tim jelajah dan konvoi bersepeda menuju Semarang. Namun mereka hanya bertahan mengikuti konvoi hingga di Muntilan atau sekitar 30 km dari DIY. Setelah tercecer cukup jauh, mereka memisahkan diri.
Sejak awal memang telah disepakati jika memang tak dapat mengikuti irama tim jelajah, maka mereka akan memisahkan diri dan melanjutkan perjalanan sesuai irama kayuhan mereka sendiri.
Menurut Adit, mereka memang sulit mengikuti irama bersepeda om-om yang sudah terbiasa berkonvoi. Tim jelajah bersepeda dengan kecepatan rata-rata 27-30 km/jam secara konstan. Menjelang Muntilan BtS memutuskan keluar dari barisan.
Tim jelajah memasuki kota Semarang sekitar pukul 16.30 setelah sempat beristirahat di Banaran, 40 km sebelum sampai tujuan. Di Lapangan Unyil, Ungaran, tim disambut jajaran Kodam Diponegoro yang mendirikan tenda pleton di taman agar kami dapat beristirahat.
Kami juga disambut sekitar 50 anggota Paguyuban Cyclist Semarang yang lalu memandu hingga ke Akademi Kepolisian Semarang.
Anggota tim Luqi Bawafi mengatakan, setelah bersepeda hampir 700 km dan menghadapi berbagai rintangan, dia semakin mengenal karakter anggota tim. Pengenalan itu membantunya memahami dan berinteraksi dengan teman satu tim.
”Makanya setelah kesulitan besar yang dialami di Trenggalek-Pacitan itu tim tidak terlalu sulit untuk bersama-sama menghadapi halangan yang terjadi selanjutnya,” tutur Manajer Produk Bank Mandiri tersebut. Luqi bergabung mewakili Mandiri Club Cycling.
Pada etape DIY-Semarang, tantangan cukup berat kami hadapi saat mendaki di wilayah Secang dan Bawen. Beberapa kawan yang kuat seperti Slamet, Dwi Kusnanto, dan Amir langsung berpencar dan mendorong teman yang kewalahan di tanjakan terjal. Dengan cara itu, pleton bergerak bersama dan tidak ada yang tercecer atau dievakuasi mobil hingga tiba di Semarang.
Emir kram
Sementara itu hingga pukul 18.00 Adit dan kawan-kawan belum juga tiba di Semarang, dan saya mulai was-was. Rupanya Emir sempat mengalami kram lutut saat menghadapi tanjakan terjal di Bawen sehingga mereka terpaksa beristirahat dulu.
Keempat remaja itu baru tiba di Semarang pukul 18.30 dengan kondisi kelelahan namun sehat. ”Di tanjakan itu saya terlalu keras memaksa lutut yang sudah berdenyut-denyut. Meskipun sudah pake cog paling enteng, tetap saja nggak bisa menghindar dari kram,” tutur Emir.
Meski begitu mereka berempat merasa sangat senang sudah berhasil mencapai Semarang. Rencananya mereka akan bertemu teman-teman Bike To School Semarang dan jalan-jalan keliling kota sebelum kembali ke Jakarta pada tanggal 1 Juli mendatang dengan kereta api. (Max Agung Pribadi)