Kamis, 29 Juli 2010
Sudin Pariwisata Jakpus menggelar Festival Jajanan Khas Betawi dan Festival Jalan Jaksa pada 30 Juli-1 Agustus 2010 di Jalan Jaksa, Menteng              Pemprov DKI segera membatasi sepeda meotor melintas di kawasan-kawasan tertentu di Jakarta              Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan vonis bebas kepada dua janda pahlawan              
Home  |  Kriminal  |  Warta Kriminal
Jumat, 12 Maret 2010 | 11:24 WIB
Waspadai Isme Teroris
wordpress.com

Kramat, Warta Kota

MESKI sejumlah pelaku teror ditangkap dan ditembak, terorisme tetap menjadi ancaman di Indonesia. Hal yang harus segera diselesaikan adalah persoalan isme-nya atau ideologinya teroris.

“Dunia sekarang menghadapi ismenya daripada wujud terornya dan ini tidak bisa diselesaikan oleh Barat, kecuali dengan moderasi Islam,” kata Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi dalam sebuah diskusi mengenai terorisme, di Gedung PBNU, Kramat, kemarin.

Menurutnya, NU melihat ada empat pendekatakan untuk melihat, mencegah dan mengatasi terorisme. Pertama, memahami secara tepat kondisi-kondisi yang menimbulkan penyebaran terorisme. Kedua, mencegah dan memberantas terorisme.

"Pendekatan ketiga membangun kapasitas negara dalam penanggulangan terorisme dan keempat, menjamin penghormatan terhadap HAM dan aturan hukum," katanya.

Terorisme, lanjutnya, bukanlah Islam dan Islam bukanlah terorisme. Namun menurutnya timbulnya terorisme di kaum Muslimin adalah

kesalahpahaman terhadap hakekat dari ajaran agama itu sendiri. “Jadi tidak melihat keutuhan Islam secara komprehensif, namun

pemahaman yang sepotong-sepotong. Salah pemahaman ini kemudian berkembang menjadi penyalahgunaan agama,” katanya.

Sementara itu pengamat politik Bachtiar Effendi mengatakan, teroris memanfaatkan kelemahan pengamanan di wilayah perbatasan. Akibatnya, mereka bisa leluasa masuk dan keluar wilayah Indonesia.

"Teroris itu masuk melalui jalur perbatasan yang pengamanannya sangat kurang. Mereka memanfaatkan kelemahan pengamanan itu," kata Bachtiar dalam diskusi di LIPI, Kamis (11/3).

Selain itu, lanjutnya, teroris yang beraksi di Indonesia ini juga disebabkan karena faktor luar. Misalnya persoalan ketidakadilan yang dialami Muslim di Irak, Afganistan, Filipina Selatan, atau nasib Palestina yang tidak kunjung membaik.

Jajat Burhanudin, Executive Director Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta mengatakan usaha pemberantasan teroris tidak utuh. Densus dengan gigih memberantas teroris, tapi tidak disertai dengan institusi lain. Dan masyarakat masih "mendukung" kegiatan teroris dengan adanya paham keagamaan yang bersifat radikal.

"Kalau di Malaysia orang seperti Azhari itu terusir dari tempatnya. Kalau di kita itu malah dilindungi dan diberi istri," ujarnya. "Teroris itu setelah ditangkap, dipenjara. Tapi setelah itu tidak ada upaya prefentif. Sehingga setelah keluar dari penjara, ia sulit melepaskan lebel (teroris) itu," ujarnya. (Syahrul Munir)

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved