
WAJAH Fannie penuh keringat sesampainya di Taman Ayodia, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dari rumahnya di Kompleks Kostrad, Pondokpinang, Kebayoran Lama, Jumat (12/2) pagi. Sepeda kuningnya kemudian diparkir persis di depan gerbang taman itu. Setelah meletakkan tas punggung, dia melepaskan helm dan kacamata hitam, pelengkap bersepeda.
Fannie kemudian menyeka keringat dengan handuk kecil. Di taman tersebut perempuan yang kini menjadi staf Humas Bike To Work (B2W) Indonesia itu bertemu dengan teman-teman sesama pesepeda yang juga baru datang dari berbagai sudut Jakarta. Begitu bertemu, mereka memanfaatkan waktu istirahat yang hanya sebentar itu untuk ngobrol.
Pagi itu para pesepeda mengenakan kaus warna kuning menyala bertuliskan isi Pasal 284 Undang-undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu-lintas. "Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepeda dipidana dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000."
Di ujung kaus kuning itu masih ada pesan lain, "Berbagi jalan yuk..." Mereka menamakan diri sebagai Komunitas Rosela alias Rombongan Selatan, seperti tulisan tegas di kaus bagian depan. "Nama panjangnya Rosela Damayanti," kata Koordinator Rosela Ichsan Djumadrin alias Icang tentang nama komunitasnya itu sambil tertawa.
Rosela Damayanti kepanjangan dari Rombongan Selatan Damai Indah Menawan Hati. Saat itu berkumpul sekitar 30 pesepeda dari pojok-pojok selatan Jakarta, seperti Ciputat, Pamulang, dan Bintaro. Sebagian besar pesepeda yang tergabung dalam Rosela memang tinggal di wilayah Jakarta Selatan dan sekitarnya.
Itu sebabnya, 'anak' dari B2W Indonesia ini memberi nama Rombongan Selatan. Para pesepeda tersebut banyak yang bekerja kantoran di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Thamrin, dan Kuningan. Icang menyatakan Taman Ayodya sebenarnya menjadi tikum (titik kumpul) kedua bagi para pesepeda Rosela setelah Menara BCA di kawasan Pondokindah.
Setiap Jumat pukul 06.10, Icang dan kawan-kawan berkumpul di bawah Menara BCA. Sekitar 20 menit kemudian, mereka melanjutkan perjalanan ke Taman Ayodya. Dari taman itu para pesepeda tersebut berkumpul dengan anggota komunitas yang lain. Setelah itu berangkat bersama-sama ke kantornya masing-masing.
Jika masih ada waktu sebelum masuk kantor, pesepeda yang bekerja kantoran itu akan mampir sejenak di sebuah warung makan di Bendungan Hilir, Jakpus, untuk sarapan. Sementara yang tidak bekerja, biasanya akan kembali ke rumah atau hang out ke tempat lain. Sara Siregar (21) misalnya. Begitu teman-temannya menuju ke kantor, Sara memutuskan pulang ke rumahnya di Bintaro.
Mahasiswi tingkat akhir Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan (UPH) Karawaci ini baru beberapa bulan bergabung dengan Rosela. "Semula hanya sepedaan di kompleks rumah. Tiba-tiba ada yang ngeracunin agar mau bersepeda di jalan raya," kata Sara yang semula dijemput dan diantar pulang dengan sepeda oleh anggota Rosela ini.
Icang menceritakan, Rosela merupakan salah satu wilayah B2W Indonesia yang ada sejak Agustus 2007. Awalnya, banyak pesepeda yang hanya ikut serta dalam mailing list B2W Jakarta Selatan sejak 2005. Semakin hari banyak pesepeda yang senang berkumpul bareng hingga berwisata kuliner dengan sepeda. Jumlahnya kini lebih dari 300 pesepeda.
B2W Indonesia kemudian sepakat agar Rosela dibentuk untuk mewadahi pesepeda di Jakarta Selatan dan sekitarnya. B2W juga mengumpulkan para pesepeda di seluruh wilayah Jakarta. Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara bergabung dalam Komunitas Timur, dan pesepeda di Jakarta Barat membuat Komunitas Robar (Rombongan Jakarta Barat).
Komunitas Rogad alias rombongan gado-gado, terdiri atas anggota B2W dari Kramatjati, Kalibata, Cawang, dan sekitarnya. "Kami berkumpul saat digelarnya kegiatan car free day. Saat ini kami sedang mengampanyekan jalur sepeda di Jakarta," kata Icang.
Menurut Nico Alfian yang 'dituakan' oleh anggota Komunitas Rosela, jalur sepeda di Jakarta sangat dirindukan oleh orang-orang yang gemar menggunakan sepeda sebagai moda transportasinya. Sayangnya, para pesepeda saat ini masih harus bersinggungan dengan kendaraan lain karena belum memiliki jalur sepeda.
"Saat ini kami menunggu ide dari Wali Kota Jakarta Selatan Syahrul Effendi untuk membuat jalur sepeda mulai Lebakbulus sampai Jalan Sisingamangaraja," kata Nico. "Aturan tentang jalur sepeda juga belum jelas," tambah Icang.
Para penggiat sepeda di Jakarta juga berharap Gubernur DKI Fauzi Bowo dapat segera membangun jalur sepeda di Ibu Kota. Kini, saatnya berbagi jalan yuukk...(Irwan Kintoko)