
Ada lebih dari sejuta hati Bangsa Indonesia yang teriris saat berita itu datang. Abdurrahman Wahid wafat pada pukul 18.45, hari Kamis 30 Desember 2009. Tokoh yang begitu merakyat itu, meskipun dia seorang kyai, negarawan, dan Presiden Republik Indonesia keempat, telah berpulang kepada Sang Khalik penciptanya.
Hampir semua masyarakat Indonesia kenal dengan Abdurrahman Wahid. Tokoh yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur ini dikenang banyak orang akan humor-humor segar dan sikapnya yang santai. Namun orang-orang dekatnya lebih mengenangnya akan pemikirannya yang kritis dan cerdas.
Sementara masyarakat bangsa lain mengenal Gus Dur sebagai tokoh pluralis yang melindungi perbedaan. Maka tak mengherankan jika banyak orang bersedih hati dengan berpulangnya Abdurrahman Wahid.
Dari mana kemampuan Gus Dur yang luar biasa itu? Jawabnya dari erjalanan panjang dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain, dari negara yang satu ke negara yang lain. Serta tentu saja tak dilupakan pula latar belakang keluarga Kyai dan pejuang.
Perjalanan panjang hidup Gus Dur selama 69 tahun ini dirangkum dalam sebuah novel bertajuk Sejuta Hati untuk Gus Dur yang disusun oleh Damien Dematra. Novel ini diadaptasi dari skenario film Gus Dur : The Movie yang direncanakan akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia menjelang ulang tahun Gus Dur yang ke-70 pada September 2010.
Namun berpulangnya Gus Dur membuat Damien berinisiatif membuat versi novel, sekaligus menggalang proyek pengumpulan Sejuta Hati untuk Gus Dur.
“Dur...tidur! Bapak ndak mau nerangin satu kamus dan ensiklopedi sama kamu," kata Wahid Hasyim, sang ayah, kepada Gus Dur kecil yang baru berusia 4 tahun.
Begitu lah diceritakan dalam novel ini betapa Gus Dur sudah begitu besar rasa ingin tahunya sejak masih balita.
Diceritakan pula bahwa Gus Dur telah memiliki sifat suka menolong orang yang tertindas. Sewaktu duduk di bangku sekolah dia pernah berkelahi dengan teman sekolahnya yang anak seorang menteri, untuk membela seorang pembantu sekolah yang sudah tua. Meski pun dia harus dihukum gurunya karena itu.
Wahid hasyim pun mencita-citakan bahwa putra sulungnya ini kelak akan meneruskan perjuangannya menjadi pemimpin NU, sehingga dia mulai mempersiapkan Gus Dur dengan sering mengajaknya mengikuti rapat NU. Gus Dur menyerap pelajaran dengan berperan sebagai pendengar yang baik, dan sesekali memberi komentar dan masukan yang tajam.
Tak banyak yang mengetahui bahwa Gus Dur juga sempat terombang-ambing saat kasih sayang ayahnya terenggut tiba-tiba. Dalam perjalanan dari Bandung menuju Rapat NU di Sumedang, mobil yang ditumpangi Wahid Hasyim dan Gus Dur mengalami kecelakaan di daerah pegunungan. Wahid Hasyim yang berusaha melindungi anaknya terluka parah. Keesokan harinya, di sebuah rumah sakit di Bandung, Gus Dur menggenggam tangan ayahnya yang semakin lemah. Diiringi suara takbir, Wahid Hasyim mengembuskan napas terakhir.
Sepeninggal ayahnya Gus Dur mengalami kegamangan. Dia malas-malasan sekolah sehingga harus tinggal kelas. Untung semangatnya pulih kembali, dan menjadi Gus Dur yang dikenal saat ini.
Novel terbitan Gramedia Pustaka Utama ini membuat pembacanya mengenal sosok Gus Dur lebih dekat. Gus Dur sebagai anak, Gus Dur sebagai pelajar, Gus Dur sebagai mahasiswa, Gus Dur sebagai suami, dan Gus Dur sebagai ayah. Bukan sekadar Gus Dur dengan joke-joke segarnya, atau pun dari kalimat andalannya, "gitu aja kok repot..." (*/ink)
Judul : Sejuta Hati Untuk Gus Dur
Penulis : Damien Dematra
Tebal : 384 halaman
Dimensi : 13,5 x 20 cm
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-5346-7