
Herpin Dwijayanti (23), finalis Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2009, memulai usaha kursus bahasa asing dari tempat kos dan kantin kampus.
Meskipun mempunyai segudang prestasi, Herpin Dwijayanti yang baru beberapa bulan lalu menyelesaikan kuliahnya di Institut Teknologi (IT) Telkom tetap rendah hati. "Waktu mendaftar ikut WMM 2009, status saya masih mahasiswa. Tapi ketika kompetisi berjalan, saya sudah tamat kuliah. Jadi, saya dimasukkan ke dalam kelompok alumni dan pascasarjana," ujar pemilik kursus bahasa asing Hikari Language Center tersebut, belum lama ini.
Herpin, pengusaha muda dari Bandung, berhasil masuk 12 besar finalis WMM 2009. Ia menyisihkan 1.706 mahasiswa dari 200 perguruan tinggi di Indonesia.
Saat ditemui Warta Kota di sebuah resto cepat saji di Stasiun Gambir, Herpin baru beberapa hari mengikuti Expo Wirausaha Mandiri yang dibuka oleh Wakil Presiden Boediono. Tidak heran Herpin sangat bersemangat ketika menceritakan tentang expo yang diadakan Bank Mandiri tersebut.
“Banyak sekali manfaatnya, antara lain kita jadi lebih dikenal masyarakat dan dapat membuka peluang bisnis. Dari expo itu, saya mendapat sekitar 10 peminat yang ingin bermitra dengan Hikari. Mereka mau membuka kursus di Bekasi, Depok, Tangerang dan sejumlah daerah lainnya,"ujar perempuan berjilbab ini.
Herpin yang menguasai Bahasa Inggris dan Jepang kini mempunyai tiga tempat kursus di Bandung, dengan motto ‘Language for all’ (bahasa untuk semua). "Nama Hikari dipilih, selain mudah diucapkan, artinya juga sesuai dengan spirit ilmu. Hikari berasal bahasa Jepang yang berarti cahaya. Sebagai ilmu, bahasa bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat dan bekal untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Maka, prinsip saya, kursus bahasa harus bisa dinikmati semua kalangan. Saya ingin menghapus mitos bahwa kursus bahasa asing yang berkualitas mahal," tuturnya.
Hikari yang dibangun dengan modal Rp 300.000 dan tiga pengajar, kini dalam waktu singkat berkembang pesat menjadi tempat kursus dengan omzet sekitar Rp 50 juta/tahun, dengan 20 pengajar dan 331 siswa. Hikari didirikan tanggal 13 Februari 2007, saat Herpin masih mahasiswi jurusan teknik industri semester IV IT Telkom. "Semua pengajarnya part time," ujarnya.
Seiring dengan perkembangan usahanya, Herpin juga membangun sistem bisnisnya agar pengelolaannya bisa dilakukan oleh timnya. Apalagi mulai bulan April 2010, Herpin akan kuliah lagi ke Jepang untuk mengambil gelar MBA. "Saya dapat bea siswa dari Jepang. Soal bisnis, saya berkeyakinan sudah bisa berjalan tanpa keterlibatan saya. Saya tinggal kontrol dari jauh," kata mantan siswa pertukaran pelajar AFS ke Tokyo, Jepang 2003-2004 ini.
Berpindah-pindah
Herpin yang lahir di Depok tanggal 8 April 1986 tergolong anak muda kreatif. Dia mampu mewujudkan idenya untuk hidup mandiri, dengan memanfaatkan kemampuannya berbahasa menjadi bisnis. "Awalnya sih saya ngajar di tempat teman. Tapi, karena tempat kursusnya tutup, saya berpikir kenapa tidak bikin kursus sendiri saja. Kan bagus juga untuk berbagi ilmu dan menjaga supaya tidak lupa," katanya.
Modal pertamanya Rp 300.000 dimanfaatkan untuk membuat brosur. Ternyata responnya positif. Sebelumnya Herpin sudah dikenal di lingkungan kampus karena dia sering menjadi MC bahasa Inggris dan ketua klub bahasa Inggris. Dia juga pernah menjuarai berbagai kompetisi, seperti, juara 2 pidato bahasa Inggris Fakultas Hukum Unpad 2008 dan juara 3 Presenting Idea National English Olympic BINUS 2008.
Kreativitasnya juga teruji dari caranya mengakali kendala permodalan. Herpin bisa mengubah kelemahan menjadi kekuatan bisnisnya. Contoh, sejak awal Herpin tidak punya kantor dan tempat belajar yang permanen. Solusinya, dia menawarkan kepada siswanya untuk memilih tempat yang disukainya. Dengan waktu dan tempat yang fleksibel, kegiatan belajar menjadi lebih fun.
Sistem nomaden (berpindah-pindah) itu akhirnya menjadi keunikan dan keunggulan Hikari Language Center. Jangan heran, sekali waktu ada siswa Hikari yang belajar di kantin kampus. Pada waktu lain belajar di kafe. Begitu seterusnya.
"Kira-kira dua tahun kami tidak punya tempat tetap. Kami rapat bisnis juga di kantin kampus atau tempat kos. Di situ kami mengatur jadwal belajar mengajar, mengurus administrasi sampai keuangan. Syukur sekarang kami sudah punya tiga tempat kursus di Bandung. Meski begitu, ciri fleksibelitas tetap dipertahankan," ujar Herpin bangga. (Herry Sinamarata)