
Tanahabang, Warta Kota
Lord George Macartney, sempat mampir ke Batavia di sekitar akhir abad 18, tepatnya di tahun 1793. Ia bahkan sempat menikmati pesta yang luar biasa mewah, anggur Madera (Madeira) – anggur beken asal Portugis – pun tak henti dituang bagi duta pertama Inggris untuk China itu.
Pergelaran wayang China dan atraksi kembang api yang bagaikan letusan gunung api menambah meriah suasana. Dan pastinya, yang tak terlewatkan, dansa dansi sampai pagi.
Demikian sepenggal kisah Lord Macartney di Batavia, dalam rangka menuju China. Rangkaian kegiatan di Batavia ditulis Macartney dalam sebuah jurnal. Jurnal itu ditulis ulang oleh Junus Nur Arif dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe.
Ketika kapal Lion, kapal yang ditumpangi Macartney mendekat ke daratan, pejabat Belanda pun sibuk menyambut. Pesta hingga subuh itu digelar di rumah kediaman seorang anggota dewan Belanda, Wiegerman.
Kediaman Wiegerman berada di luar Kota Batavia, di kawasan yang disebut udik, bernama Tebanang, De Nabang, atau Tanahabang. Dari Batavia ke Tenabang, orang biasa menyebut naar boven alias pelesir atau jalan-jalan
Dalam beberapa referensi tentang sejarah Tanahabang, nama Tanahabang mulai muncul di abad 17. Diduga, nama itu berasal dari tentara Mataram yang datang menyerbu VOC di Batavia tahun 1628. Di dataran berbukit bertanah merah dan berawa itulah pangkalan tentara Mataram.
Kawasan ini di masa itu juga masih menjadi kebun teh, melati, kacang, sirih, jahe. Kawasan ini juga dialiri Kali Krukut. Di masa itu yang namanya Tanahabang meliputi hingga kawasan Weltevreden, Molenvliet West sampai Rijswijk.
Sebuah foto dari tahun 1875, koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribbean Studies) atau Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, menunjukkan gardu penjagaan yang berbentuk seperti kotak lengkap dengan dua nama di pojok kiri dan kanan atas yaitu Tanahabang dan Rijswijk. Di masa itu, rumah gardu memang dibangun pada jarak-jarak tertentu.
Referensi lain menyebutkan, nama Tanahabang resmi digunakan setelah Jawatan Kereta Api membangun stasiun kereta api di tahun 1890.
Stasiun itu kemudian diberi nama Tanahabang, bukan Tenabang (dari De Nabang, nama sejenis pohon yang banyak tumbuh di daerah itu) seperti yang selalau disebutkan warga kala itu.
Kisah tentang Tanahabang pastinya lumayan bertumpuk. Ada satu kisah tentang sebuah gedung yang semula dimiliki warga Prancis dan kemudian beberapa kali berpindah tangan. Tahun 1942, bangunan dengan halaman luas itu dibeli Dr Karel Christian Cruq dari tangan seorang konsul Turki.
Di masa revolusi, rumah itu dijadikan markas Badan Keamanan Rakyat (BKR). Pada 1947, rumah itu dibeli seorang pengusaha bernama Lie Soin Phin yang kemudian dikontrakkan ke Departemen Sosial.
Tahun 1952 Depsos justru membelinya dan bulan Oktober 1975 diserahkan ke Pemda DKI untuk dijadikan museum. Museum yang di bagian depannya masih saja dihiasi pedangang kaki lima, dan berada di kawasan kumuh di Jalan Petamburan, itu tak lain adalah Museum Tekstil.
Di museum ini pengunjung bisa belajar membatik. Sabtu pagi 30 Januari 2010, Komunitas Sahabat Museum (Batmus) akan menggelar "Plesiran Tempo Doeloe" ke tempat ini. Dengan biaya Rp 75.000/orang, peserta bisa menjajal kemampuan membatik.
Tak hanya itu, menurut Ketua Batmus, Ade Purnama, kegiatan itu juga akan diisi dengan pengetahuan tentang riwayat Tanahabang, kisah perjalanan batik nusantara, dan tentu saja menengok koleksi museum ini.
Peserta juga bsia mencicipi makanan serta minuman khas Betawi seperti bir pletok dan jajanan khas lainnya. Menurut Ade, peserta yang ingin mendaftar bisa menghubunginya di email: adep@cbn.net.id. (Pradaningrum Mijarto)