
Data World Health Organization menyebutkan, angka kejadian kanker serviks di Indonesia sekitar 90-100 orang per 100.000 penduduk. Termasuk yang paling tinggi di dunia, dengan rata-rata kasus baru per tahun sebanyak 200.000 kasus.
Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 memperkirakan setidaknya ada 60 juta perempuan Indonesia yang termasuk dalam kategori berisiko terkena kanker serviks. Jumlah itu sangat besar, dan tentunya cukup memprihatikan.
Di banyak negara lain, bahkan di negara tetangga kita Thailand dan Malaysia, angka kejadian kanker serviks cenderung menurun. Salah satu faktor yang menyebabkan angka kejadian kanker serviks menjadi turun adalah program deteksi dini yang digalakkan secara masif.
Menurut dr Dr Junita Indarti dari Divisi Ginekologi Spesialistik pada Departemen Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kanker serviks memang bisa dicegah asalkan gejalanya ditangani sejak sangat awal, melalui pemeriksaan pap smear secara teratur setiap tahun.
Di Indonesia, ironisnya hanya 3 persen saja kaum perempuan yang melakukan pemeriksaan pap smear ini secara teratur. Kenapa? Tidak semua perempuan terjangkau informasi dan pengetahuan tentang kanker serviks serta pentingnya deteksi dini.
Selain itu, biaya pemeriksaan yang dianggap relatif mahal khususnya bagi perempuan dari kalangan kurang mampu. Sedangkan pemerintah belum memiliki alokasi dana untuk melakukan program deteksi dini secara masal.
Solusi yang mungkin bisa ditempuh adalah dengan memeriksakan diri ke puskesmas. Pemeriksaan sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia yang relatif murah dan mudah ditemukan.
Atau, manfaatkan kesempatan yang ditawarkan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) melalui kegiatan Xtra Peduli bagi Xtra Perempuan. YKI mempersilakan perempuan di kawasan Jabodetabek untuk mendapatkan pemeriksaan pap smear secara gratis.
Kegiatan itu akan berlangsung pada 26-29 Januari 2010, yang berlangsung di tiga lokasi, yakni YKI Pusat, YKI DKI, dan YKI Lebakbulus. Mereka yang dapat mengikuti tes pap smear gratis haruslah perempuan yang sudah menikah atau sudah pernah melakukan hubungan seks dan sedang mengalami haid. (Ika Chandra V)