Kamis, 29 Juli 2010
Sudin Pariwisata Jakpus menggelar Festival Jajanan Khas Betawi dan Festival Jalan Jaksa pada 30 Juli-1 Agustus 2010 di Jalan Jaksa, Menteng              Pemprov DKI segera membatasi sepeda meotor melintas di kawasan-kawasan tertentu di Jakarta              Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan vonis bebas kepada dua janda pahlawan              
Home  |  TaMu
Senin, 11 Januari 2010 | 15:30 WIB
Bike to School
Denmark Negeri Sepeda (2-habis) - Politikus pun Bersepeda
Cycling Embassy of Denmark

Setiap orang bersepeda di Denmark, dari petinggi negara sampai orang biasa. Dari Perdana Menteri, para profesional, anak sekolah sampai ibu rumah tangga. Lha, kan bersepeda jadi gaya hidup?

Bagi orang Denmark, bersepeda merupakan kesenangan, menguntungkan, menyehatkan bagi tubuh, dan tentu tidak menimbulkan polusi. Ya, orang Denmark merasa senang dan nyaman bersepeda. Itu karena budaya hidup dan perhatian dari pemerintahnya.

Seperti mantan menteri pendidikan era 1998 - 2001, yang saat ini merupakan pimpinan Partai Sosial Liberal, Margrethe Vestager. "Saya bersepeda kira-kira 10 kilometer per harinya. Saya bersepeda kemana pun, kecuali jaraknya terlalu jauh atau jika pakaian yang saya kenakan tidak praktis, seperti misalnya menghadiri pesta bersama Ratu. Anda tidak bisa bersepeda dengan pakaian pesta," kata Margrethe Vestager.

Alasan utama dia bersepeda karena cepat dan praktis. Namun sebagai seorang politikus, dia juga juga melihat sisi positif dari arti berkendara. "Bagi saya bersepeda berarti bahwa saya bisa berinteraksi lebih dengan orang-orang di sekitar saya - dibandingkan saya duduk di belakang setir," katanya menjelaskan.

"Saya lebih memilih menjadi bagian dari kehidupan di jalan," katanya.

Dan Margrethe menjadi bagian dari kehidupan di jalan ketika dia membawa anaknya ke sekolah bersama dengan sepeda kargonya.

Pekerja bersepeda

Ada juga pengacara berusia 33 tahun, Lars Kjaer yang setiap hari bersepeda dengan menggunakan jas resmi.

"Itu bukan masalah. Jika hujan, saya pakai jas hujan dan jas resmi di dalamnya. Saya juga menggunakan sepatu bot dan menaruh sepatuku di tas," jelas Lars.

Bersepeda menjadi hal yang tidak aneh di biro hukum di mana Lars bekerja, dan setiap Mei setiap tahunnya, sebagian pekerja di kantonya berpartisipasi dalam kampanye bersepeda ke kantor.

"Bersepeda sudah menjadi bagian hidup di kota. Mengapa saya harus melakukan hal lain? Hanya tiga kilometer ke tempat kerja dan itu hanya membutuhkan waktu 10 menit dengan bersepeda. Kalau bermobil, saya harus menempuh arah yang berbeda yang memakan waktu lebih lama," katanya.

Lars tidak pernah berpikir untuk membeli mobil, mungkin nanti ketika dia sudah menikah dan bila membeli rumah yang letaknya jauh dari tempat kerjanya.

Sementara bagi Zdenka Jankovic, bersepeda merupakan bagian dari pekerjaannya sebagai pengantar surat. Di Denmark, surat-surat pos dikirim dengan menggunakan sepeda di kota dan dengan sepeda pos klasik berwarna kuning yang telah populer menjadi bagian dari kehidupan jalanan di kota-kota di Denmark.

"Ketika saya bersepeda melewati sekolahan, anak-anak berteriak 'halo tukang pos,' kepada saya. Saya merasakan orang-orang tukang pos bersepeda menyenangkan. Mereka tersenyum padaku dan selalu memberi jalan kalau saya lewat," katanya.

Zdenka terlalu sering bersepeda saat bekerja sehingga dia tidak bisa memastikan berapa kilometers dia berkendara setiap harinya. Dia bersepeda empat kilometer dari rumah menuju kantor pos dengan sepedanya sendiri. Dan bekerja dengan bersepeda setiap hari tidak cukup baginya, dia masih saja bersepeda di waktu luangnya sekitar 10 kilometer ke luar kota.

Zdenka mempunyai mobil dan hanya dia gunakan ketika menempuh jarak yang jauh atau ketika berbelanja sehingga dia bisa mengangkut barang belanjaan yang banyak.

"Bersepeda menyenangkan. Kopenhagen sebuaH kota yang bagus untuk pesepeda dengan banyak jalur sepeda, sehingga saya merasa aman dan itu merupakan cara tercepat," katanya.

Keluarga bersepeda

Sebagai ibu rumah tangga dan pekerja, Maren Uthaugh setiap pagi harus mengantar tiga anaknya untuk bersekolah di sekolah dasar dan TK, serta berangkat ke kantornya. Meski mempunyai mobil, Maren mengantarkan tiga anaknya ke sekolah dengan sepeda kargo roda tiga.

"Biasanya lebih cepat dengan bersepeda karena bisa menghindari kepadatan lalu lintas dan masalah parkir," katanya.

Maren tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa sepeda karena setiap hari dia bersepeda kemanapun dia pergi. "Saya tidak bisa hidup tanpa sepeda," tegasnya.

Bahkan ketika hamil, dia masih bersepeda sampai satu hari sebelum dia melahirkan.

"Saya percaya saya akan menggunakan sepeda sampai saya berumur 90 tahun, sampai saya tidak kuat lagi untuk bergerak," katanya. (Antara/ink)

 

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved