
Belakangan ini media massa nasional sedang sering memuat berita tentang pemanasan global atawa global warming, perubahan iklim, es di kedua kutub dan Himalaya yang mencair, dan banyak lagi yang berkaitan dengan masalah lingkungan.
Hal itu tak lain dan tak bukan karena akan berlangsungnya United Nation Climate Change Conference, yang akan berlangsung di Kopenhagen, Denmark pada 7-18 Desember 2009. Perhelatan besar yang sering disebut dengan COP15 itu akan dihadiri para pemimpin negara dan pemerintahan. Ya, namanya juga summit meeting alias koferensi tingkat tinggi (KTT).
Kenapa sampai Badan Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB) alias United Nation butuh menggelar KTT soal perubahan iklim ini? Pertemuan di Denmark ini yang ke-15 kalinya lho, makanya singkatan nama acaranya adalah COP15. Hal ini disebabkan perubahan iklim membawa dampak buruk, bahkan sangat buruk, bagi manusia. Berbagai bencana alam semakin mengganas hanya gara-gara terjadi anomali iklim.
Misalnya banjir yang kemarin melanda Arab Saudi sehingga menyebabkan 77 orang tewas, dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal, pada minggu terakhir November kemarin. Bencana itu disebabkan curah hujan yang melebihi biasanya di kawasan itu, sehingga masyarakat setempat kelabakan karena belum mempunyai pengalaman bencana serupa.
Perubahan iklim juga berdampak pada menurunnya produksi bahan pangan. Bayangkan, di sebuah negara terjadi kemarau berkepanjangan sehingga tanaman pangan gagal panen. Sementara di negara lainnya hujan turun berlebihan dari biasanya sehingga petani di sana juga gagal panen karena tanamannya busuk. Produksi pangan menurun, harganya menjadi tinggi, dan masyarakat miskin kesulitan mendapatkan pangan.
Perubahan jumlah curah hujan dan masa kemarau hanya lah salah satu dampak dari perubahan iklim. Masih ada dampak buruk lainnya, yang membawa kesengsaraan manusia.
Penyebab perubahan iklim pun sudah banyak yang mengerti, yakni karena bumi semakin panas karena terjadinya efek gas rumah kaca. Terjadi timbunan gas di atmosfer akibat berlebihannya emisi gas buang, yang menyebabkan udara panas terperangkap di bawahnya.
Apakah perubahan iklim tak bisa ditangani? Jawabannya bisa yakni dengan mengurangi emisi gas buang. Ada dua cara pengurangan emisi gas buang, yakni mengurangi kegiatan yang menimbulkan emisi gas buang, dan melakukan kegiatan yang mampu mengurangi emisi gas buang. Wah, bahasanya ribet ya?
Bahasa di atas kertas kelihatannya ribet dan sulit, namun sebenarnya ada hal-hal mudah yang bsa dipraktikan. Melakukan aktivitas Bike to School alias bersepeda ke sekolah adalah salah satu bentuk mengurangi kegiatan yang menimbulkan emisi gas buang, sebab sepeda tidak menimbulkan emisi gas buang.
Menghemat listrik juga bentuk mengurangi kegiatan yang menimbulkan emisi gas buang. Penjelasannya, sebagian besar listrik di Indonesia dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), di mana uap muncul dari pembakaran batu bara. Proses pembakarannya sendiri sudah menimbulkan emisi gas buang yang cukup pekat. Ditambah lagi bentuk penambangan batu bara tidak ramah lingkungan karena membabat pohon-pohon yang fungsinya mendaur ulang emisi gas buang tadi.
Sementara kegiatan yang mampu mengurangi emisi gas buang adalah penghijauan. Seperti sudah dijelaskan, pohon melakukan daur ulang karbon dioksida atau monoksida menjadi oksigen yang artinya mengurangi emisi gas buang. Semakin banyak pohon semakin banyak oksigen yang dihasilkan.
Nah, teman-teman BtS boleh berbangga hati karena telah melakukan upaya penyelamatan bumi dengan bersepeda ke sekolah. Usaha ini mungkin terlihat kecil namun sudah merupakan langkah awal yang berarti. Usaha ini akan semakin berarti jika penganutnya bertambah banyak. Mari terus sebarkan misi penyelamatan dunia ini. (AC Pingkan)