
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi tengah menginventarisasi kuliner khas daerah itu untuk selanjutnya dipasarkan kepada wisatawan yang datang berkunjung melalui tempat-tempat penjualan makanan khas.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Bekasi, Aleksander Ulkarnain, mengatakan kuliner Bekasi harus memiliki banyak alternatif agar orang yang datang terkesan dan berkeinginan kembali kedaerah itu untuk mencicipi makanannya.
"Kita masih punya makanan khas seperti tape uli, pucung gabus, nasi uduk, dodol Bekasi dan akar kelapa, namun tentunya perlu lagi penggalian agar keragaman kuliner daerah bisa ditampilkan secara utuh kepada wisatawan," ujarnya di Bekasi Sabtu (14/11).
Ia mengakui alternatif makanan khas Kota Bekasi masih minim dan yang ada sekarang juga belum terlalu dikenal seperti makanan khas daerah lain. Meski begitu, dengan inventarisasi serta diikuti sosialisasi dan penyediaan sarana untuk penjualan makanan khas secara bertahap orang akan makin akrab dengan makanan khas daerah itu.
Sebagai kota transit dan kurang memiliki objek-objek wisata alam yang bisa dijual ke wisatawan, daerah itu lebih mengandalkan kuliner bagi tamu.
Ia menambahkan, peran sektor pariwisata dalam memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah masih minim, mengingat sangat sedikit sekali wisatawan yang sengaja berkunjung ke Bekasi serta membelanjakan uangnya dalam nilai besar.
Kondisi tersebut bisa dimaklumi karena sebagai daerah penyanggah seperti wilayah Bogor, Tangerang, Depok ataupun Cianjur sulit berharap mendapatkan wisatawan sendiri melainkan limpahan dari Jakarta ataupun Jawa Barat.
"Kita juga tak punya data berapa wisatawan Nusantara dan asing yang datang ke Bekasi. Bekasi tidak punya bandara, dan pelabuhan laut, sementara tamu hotel juga sulit dibedakan antara wisatawan dengan penduduk setempat," ujarnya. (Ant/tig)