Minggu, 5 Februari 2012
Bursa EUROPE :FTSE 100* 5796.07 naik 5.35 atau 0.09% |DAX 6655.63 naik 38.99 atau 0.59%              Bursa U.S :DJIA 12705.41 turun -11.05 atau -0.09% |Nasdaq 2859.68 naik 11.41 atau 0.40%               Transjakarta mogok di depan RS Dharmais akibatnya arus lalin S Parman arah Slipi tersendat. (TMC)              Kompas TV di saluran bctv (40 UHF) Surabaya, mostv (52 UHF) Palembang, khatulistiwatv (39 UHF) Pontianak, makassartv ( 23 UHF) Makassar, dan dewatatv ( 23 UHF) Bali.              KompasTV di saluran ktv (28 UHF) untuk wilayah Jabodetabek, stv (34 UHF) Bandung, btv (47 UHF) Semarang, atv (32 UHF) Batu-Malang Raya              
Home  |  TaMu
Sabtu, 31 Oktober 2009 | 19:01 WIB
Bike Lane Yang Didambakan
Warta Kota/ Anastasia C Pingkan

Kata bike lane lagi ngetop nih belakangan ini. Terutama sejak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengatakan akan membuat jalur sepeda alias bike lane di Jakarta tahun 2010. Asyik!

Di Facebooknya Bike to School (BtS) kata bike lane disebut-sebut juga. Gara-gara bertemu Gubernur DKI, Pak Fauzi Bowo, dan foto bersama, para bala BtS jadi ingat bahwa Jakarta harus punya jalur sepeda.

Memiliki jalur sepeda memang idaman setiap pesepeda, karena selama ini pengedara kereta angin sering disia-sia oleh pengendara kendaraan lainnya. Dari yang sekadar diklakson sampai yang tahu-tahu dipepet bus kopaja secara tiba- tiba.

Kalau sudah begitu pesepeda tidak bisa berbuat banyak. Mau mengejar si bus kopaja itu juga tidak terkejar (bayangkan, tenaga betis dibandingkan tenaga mesin diesel). Yang bisa dilakukan paling-paling memaki, mengutuk, serta mendoakan si pemepet tadi.

Namun apakah diskriminasi itu akan berakhir setelah ada jalur sepeda? Hmm..kayaknya kok nggak ya. Pengalaman di negara-negara maju, adanya jalur sepeda malah meningkatkan diskriminasi itu. Mike Dahmus, seorang pengamat transportasi kota yang pernah menjadi anggota Dewan Transportasi Kota Austin, di Texas, Amerika Serikat, menemukan kenyataan bahwa bike lane justru meningkatkan "kebencian" pengedara kendaraan bermotor terhadap pesepeda.

"Pengendara mobil cenderung berpikir bahwa pesepeda harus tetap berada di jalurnya meskipun jalur sepeda sedang terhambat," tulis Dahmus di artikelnya yang bertajuk "Pros and Cons of Bike Lanes". Padahal kalau di jalur sepeda sedang ada hambatan, pesepeda masih boleh keluar jalurnya sebentar kok, seperti halnya bus Transjakarta masuk ke jalur biasa saat di busway sedang ada hambatan.

Selain itu ada anggapan lain yang muncul dari para pengendara kendaraan bermotor, jika di sebuah jalan tidak ada jalur sepeda maka sepeda tak boleh lewat di jalan itu. Nah lho kalau begitu.

Ternyata membuat jalur sepeda itu tak sesederhana sekadar membubuhkan marka garis lurus tanpa putus di aspal. Ada konsekwensi yang mengikutinya. Yang paling jelas adalah timbulnya salah sangka dari pengendara kendaraan lain. Konsekwensi lainnya adalah aturan berlalu lintas yang lebih mengikat bagi pesepeda. Misalnya, tak boleh bersepeda melawan arus lalu lintas (ah, di sini motor lebih sering melawan arus lalu lintas).

"Dengan adanya jalur sepeda, pesepeda harus mulai berperilaku seperti pengendara kendaraan lainnya, dan membuat kondisi aman bagi semua pengguna jalan," kata Ian Hallett, peneliti dari The University of Texas di Austin, yang juga melakukan penelitian tentang bike lane tahun 2006.

Membuat jalur sepeda juga harus memperhatikan banyak hal. Pertama, lebar jalur sepeda yang ideal adalah 1,3 meter, sehingga pesepeda yang lebih cepat bisa mendahului pesepeda yang lebih lambat. Selain itu jalur sepeda harus mulus tak boleh berlubang, karena sepeda adalah kendaraan yang sangat mengandalkan keseimbangan. Design jalur sepeda di persimpangan jalan juga harus benar, karena design yang buruk malah membuat kasus kecelakaan lalu lintas yang menimpa pesepeda meningkat, terutama di persimpangan jalan.

Nah, dari pengalaman yang terjadi di negara lain, berarti sebelum membuat jalur sepeda secara fisik yang harus dilakukan adalah melakukan pembenahan perilaku kita para pesepeda kota (urban cyclist) dan perilaku pengguna jalan lainnya (pengendara mobil dan motor), agar tidak terjadi konflik di antara sesama pengguna jalan.

Caranya? membuat kampanye bersepeda simpatik yang menunjukkan bahwa pesepeda bukan ancaman bagi pengguna jalan lainnya. Dan para bala BtS rasanya sudah bisa terlibat membuat rumusan bersepeda yang simpatik. (AC Pingkan)

Share on Facebook
A A A
Fina Wawan
Minggu, 22 November 2009 | 17:02 WIB
enak juga ya..kalo di Jakarta dan diseluruh pelosok Indonesia ada bike lane.tapi skrng udah ada jalur busway, klo untuk bike lanenya muat enggak ya???
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved