
SENGATAN sinar matahari begitu terasa pada Kamis (12/3) pukul 10.00. Saat itu ratusan siswa SD berhamburan di halaman Kantor Kelurahan Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi, begitu suara peluit yang ditiup seorang panitia terdengar.
Suara peluit itu petanda perlombaan dimulai. Bona (11), salah satu peserta, berlari mencari sampah di sekitar kantor kelurahan itu. Bersama rekan-rekannya, dia bergegas mengumpulkan segala jenis sampah. Tugas mereka memilah sampah-sampah itu sesuai jenisnya. ”Capek, tapi senang. Jadi tahu kalau sampah itu ternyata berharga,” tutur siswa kelas 4 SDN III Cikiwul itu di sela-sela perlombaan.
Lomba itu diikuti oleh 32 regu siswa sekolah dasar. Masing-masing regu terdiri dari sepuluh siswa/siswi. Mereka berasal dari empat SDN dan dua SD swasta di Kelurahan Cikiwul. Penilaian lomba didasarkan pada kuantitas sampah yang dikumpulkan oleh masing-masing regu. Selain ukuran kuantitas, ketepatan pemilahan sampah juga menjadi pertimbangan.
Panitia penyelenggara telah menyediakan tiga kantong plastik dengan warna berbeda. Masing-masing kantong plastik itu untuk jenis sampah berbeda, yaitu sampah organik, sampah plastik dan kaca, serta sampah kertas.
Lomba memilah sampah itu digelar Pemerintah Kelurahan Cikiwul bekerja sama dengan PT Godang Tua Jaya. Lurah Cikiwul, Ending Wahidin, mengatakan lomba ini bertujuan mendidik siswa sejak dini agar peka terhadap kondisi lingkungannya. ”Terutama terkait dengan keberadaan sampah di lingkungan mereka, bagaimana selepas lomba ini mereka bisa mempraktikkan pemilahan sampah di rumah masing-masing,” tuturnya, kemarin.
Letak Kelurahan Cikiwul berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang. Setiap harinya, tak kurang dari 6.000 ton sampah dari wilayah DKI Jakarta dibuang di TPA ini.
Vice Managing Director PT Godang Tua Jaya, Linggom Lumban Toruan, mengatakan bahwa lomba tersebut bertujuan mendekatkan para siswa kepada cara hidup lebih bersih. Lomba itu juga untuk memberi pengetahuan kepada siswa sejak dini bahwa sampah juga bisa diolah lagi menjadi barang berharga.
”Kami perkenalkan kepada mereka bahwa sampah bisa dipilah dari jenis sampah basah dan sampah kering. Keduanya bisa dimanfaatkan lagi dengan cara-cara yang tepat,” ujarnya.
(Ichwan Chasani)