
Sudah sejak tahun 1992 Royani (55) berjualan sepeda. ”Sekarang mah, toko sepeda ini lagi sedih. Jarang banget ada yang beli,” tuturnya.
Toko yang diberi nama ”5 Bersaudara” itu terletak di Jalan Raya Penggilingan, Jakarta Timur.
Ketika didatangi, toko tersebut sedang dikunjungi oleh sepasang suami istri. Mereka tengah melihat-lihat sepeda beroda tiga. Seorang lelaki tampak sedang mengangkat sebuah sepeda dewasa keluar dari toko itu. Rupanya sepeda tersebut telah dibelinya.
Toko sepeda dengan luas 72 meter persegi ini penuh sesak oleh berbagai macam sepeda, mulai dari sepeda untuk anak kecil, anak remaja, sampai orang dewasa. Malah ada beberapa jenis dorongan anak bayi yang dijual. Tapi tidak terlihat sepeda ontel. ”Sepeda ontel susah nyarinya dan juga lebih mahal dari model-model sepeda lainnya,” kata Royani dengan senyum.
Toko ”5 Bersaudara” nggak cuma menjual sepeda baru. Dijual juga sepeda-sepeda bekas yang dijejer di bagian depan toko dan tak lagi dibungkus plastik. Jadi kalo kita memasuki toko ini, sepeda-sepeda seken itulah yang menyambut kedatangan kita pertama kali. Hehehe...
Royani bercerita, anak-anak SMP dan SMA juga sering beli sepeda di tokonya. ”Seringnya sih saat kenaikan kelas anak SMP sama SMA, mereka beli sepeda di toko saya ini. Tapi kalo saat-saat kayak gini nih jarang banget,” ujarnya, masih dengan senyumnya. Bapak ini memang murah senyum.
Sepeda second MTB (mountain bike) atau sepeda gunung banyak dibeli orang. Tapi ada juga yang beli sepeda baru.
Ternyata, teman-teman, di toko Pak Pak Royani itu kebanyakan cowok yang beli sepeda. Usut punya usut, kebanyakan sepeda model cowok yang banyak dijual di toko tersebut.
Toko ”5 Bersaudara” juga menjual onderdil atau spare parts sepeda dan membuka juga bengkel sepeda kecil-kecilan.
Berapa ya harga sepeda di toko itu? Rp 500.000 sampai Rp 900.000. Soal keuntungan, Pak Royani yang kental sekali logat Betawinya ini bilang, ”Wah hari ini aja baru untung Rp 15.000. Malah seminggu kemarin nggak laku-laku. Ternyata kayak gini ya dukanya seorang penjual sepeda...” Sabarlah, Pak... (Alin)