Sabtu, 13 Maret 2010
Jenazah Dulmatin menurut rencana akan dimakamkan oelh keluarganya Jumat pagi ini              Jenazah Dulmatin telah tiba di kampung halamannya di Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (12/3) sekitar pukul 03.00 dini hari              Hasil Liga Eropa: Atletico 0-0 S Lisbon, Hamburg 3-1 Anderlecht, Lille 1-0 Liverpool, Rubin 1-1 Wolfsburg, Benfica 1-1 Marseille, Juve 3-1 Fulham, Panathinaikos 1-3 Standard L, Valencia 1-1 Werder              
Home  |  Layanan Umum  |  City News
Kamis, 21 Januari 2010 | 15:58 WIB
Mahal dan Kusam, Beras OP Tak Dilirik Warga
Warta Kota/Hendry Lopulalan

Tanahabang, Warta Kota

Dari 9 ton beras yang disediakan Bulog pada operasi pasar (OP) di Kelurahan Petamburan, hanya 30 kilogram saja yang laku. Warga enggan membeli karena harga beras OP itu dianggap mahal tetapi kualitasnya mengecewakan.

Itulah yang terjadi saat operasi pasar digelar di Jalan Petamburan III, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanahabang, Rabu (20/1) pukul 09.00. Operasi pasar itu tergolong sepi pengunjung. Begitu mengetahui harga dan kualitas beras tidak sesuai, warga enggan mendatangi lokasi OP tersebut. Warga menganggap OP beras yang digelar Bulog itu tidak tepat sasaran. Harga lebih mahal daripada harga beras di pasaran. Padahal salah satu tujuan operasi pasar untuk mengimbangi kenaikan harga beras di pasaran.

Dalam OP di Petamburan, harga beras yang ditawarkan Rp 5.500 per kilogram. Harga beras itu lebih mahal dibanding beras yang banyak dikonsumsi warga Petamburan yaitu Rp 4.000-Rp 4.500 per kilogram.

Selain mahal, kualitas beras OP dinilai mengecewakan. "Kualitas berasnya payah dan harganya tinggi sehingga minat masyarakat sangat kurang. Beras yang laku hanya dua kaleng atau sekitar 30 kilogram," ujar Lurah Petamburan, Edy Syamsudin.

Edy mengatakan, beras OP seharusnya ditawarkan dengan harga di bawah harga maksimal di pasaran. "Seharusnya Bulog menjual seharga Rp 5.000 per kilogram, mungkin banyak yang beli," imbuh Edy.

Salah seorang warga bernama Santi (30), mengaku tidak mau membeli beras OP karena kualitasnya tidak sebaik yang dikonsumsi sehari-hari. "Warna berasnya kusam, berbeda dengan beras yang biasa saya makan. Dengan harga yang hampir sama, mendingan saya beli di pasar saja tetapi warnanya lebih putih," tutur Santi.

Kahumas Bulog Basirun berdalih OP beras yang dilaksanakannya bukan semata-mata menawarkan harga lebih murah. "Tujuan OP itu untuk menunjukkan bahwa stok beras cukup," katanya.

Basirun mengakui kualitas beras OP lebih rendah daripada yang biasa dikonsumsi masyarakat. "Beras OP itu lokal dan biasanya kurang bagus dan tidak diminati khususnya di masyarakat Jakarta. Selama ini masyarakat sering mengonsumsi beras impor," imbuh Basirun.

Basirun menambahkan, beras yang disajikan dalam OP di Petamburan dari jenis IR64 KW3 (kualitas nomor 3). "Beras ini kalau di Cipinang Food Station seharga Rp 5.950 per kilogram. Di pasaran bisa dijual Rp 6.000 sampai Rp 6.200 per kilogram," tutur Basirun. (Sigit Nugroho)

 

Share on Facebook
A A A
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Kode
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
About Us    |    Advertise with Us    |    Contact
© 2008 WARTA KOTA — All rights reserved