

Palmerah, Wartakotalive.com
Malam sepi. Selendang malam yang bening transparan telah turun menyentuh pori, kantuk mulai meneror konsentrasi. Hening, tiba-tiba berubah kejut dengan sosok yang nampak berjalan terseok-seok di bawah mercurie.
Pakaianya hitam, kedua tanganya terlihat sedang membawa sesuatu. Kedua mataku terus mengamati sosok yang sedang berjalan mendekatiku. Tiba-tiba saja bulu leherku berdiri, dingin seperti diselimuti angin di sekujur kepala sampai kepundak. Aku mencoba menenangkan diriku, kuambil sebatang rokok dalam saku celanaku. Aku nyalakan dan kuhisap dalam-dalam, ada sedikit adrelin yang mulai berdesir perlahan.
Sosok berpakaian hitam itupun sudah tepat lima meter dihadapanku. Wajahnya keriput, tubuhnya sedikit membungkuk namun sorot matanya masih begitu tajamnya. Nampak dingin tatapanya kepadaku. Aku mencoba tetap tenang menghadapinya. Segulung tikar ia kepit di lengan kirinya dan sebuah gayung berwarna merah ia tenteng pada tangan kananya. Kini sosok nenek tua itu telah satu meter dihadapanku. Iapun mengajaku bicara.
” Aku datang mengunjungimu, hay pemuda, sudah siapkah engkau berbaring diatas hamparan tikar yang kubawa ini, dan akan kubasuh sekujur tubuhmu menggunakan gayung ini.
Aku hanya diam terpaku mendengar ocehanya. Entah kenapa mulutku seperti terkunci tiba-tiba. Kakikupun tak dapat kugerakan sedikitpun, padahal sedari tadi tak ada rasa kaku sedikitpun.
” Baiklah pemuda, aku akan pergi lagi, aku hanya memperingatkanmu saja, bahwa kau akan seperti yang aku jelaskan tadi, camkan itu dan bersiaplah kapan saja aku akan menjempaimu lagi! Selamat tinggal…
Aku tetap diam terpaku, menatap perempuan tua yang telah memunggungiku. Aku hanya menatapnya dalam keremangan malam yang sunyi, dan tiba-tiba saja celah jariku terasa panas, akupun mulai tersadar sebatang rokoku telah terbakar puntungnya.
” Tidak, tidakkk, aku belum siap, aku tidak siap saat ini…
Teriakanku begitu kerasnya hingga mengejutkan orang disekitarku. Tiba-tiba tubuhku terasa terguncang-guncang, aku mencoba menatap sekelilingku. Dua orang temanku berpakaian hansip mencoba menyadarkanku dari mimpi.
” Sadar lo Doel, mimpi ape lo, disamperin ama Nenek gayung ye, hehehe…
” Sompret lo, ogah gue pengen idup seribu taun lagi dodol, dah ah gue mau ngopi dulu.
Budi Van Boil
Fiksikompasiana

