Rabu, 8 September 2010
Home
Kamis, 29 Juli 2010 | 17:58 WIB
Belajar Masak di Hotel Bintang 5
Warta Kota/Anastasia C Pingkan 
Dibaca : 149 kali | Komentar: 0

Memasak itu ternyata gampang-gampang susah. Sudah mengikuti langkah- langkah di resep secara detail, namun hasilnya tidak sesuai ekpektasi. Maka tak mengherankan jika beberapaa perempuan di Jakarta rela membayar mahal untuk menjadi peserta cooking class di sejumlah hotel bintang lima di Jakarta.

Sabtu (24/7) siang Hotel JW Marriott Jakarta membuka dapurnya bagi 20 orang peserta kelas memasak (cooking class), yang ingin tahu kiat-kiat memasak penganan China yang benar dan rasanya pasti lezat. Mereka dengan tekun menyimak pelajaran dari sang "suhu", John Chu, yang sudah pasti pakar sekali di bidang memasak penganan China. Gelarnya saja master chef untuk penganan China (Chinese food), khususnya kuliner ala Kanton.

Hari itu John memperagakan cara membuat tiga penganan, yakni udang goreng mayonaise wasabi berbalut keripik kentang sebagai makanan pembuka (appetizer), daging sapi lada hitam dengan jamur shimeji, dan makanan penutup bola-bola wijen yang garing alias onde-onde.

"John, bagaimana membuat keripik kentang ini tetap renyah dan garing?" tanya seorang peserta. Memang, salah satu masalah dalam membuat keripik kentang adalah kerenyahannya. Biasanya keripik kentang cepat sekali melempem.

"Kentang itu ya, setelah dipotong halus-halus dicuci dibawah air mengalir beberapa kali ya, supaya menjadi kaku. Habis itu dikeringkan dengan napkin (serbet) sebelum digoreng," kata kepala juru masak Pearl Chinese Restaurant ini dalam bahasa Indonesia berlogat campur-campur. Maklum saja, John berasal dari Malaysia, tapi sudah cukup lama malang-melintang di Indonesia.

"John, selasih itu apa? Bisa diperoleh di mana" tanya peserta yang lain.

"Ini gampang saja dicari di supermarket," jawab juru masak yang memulai kariernya di Hongkong 20 tahun lalu itu, sambil menunjukkan satu botol selasih dengan merek yang gampang dicari di Indonesia. Wow, ternyata hotel bintang lima juga menggunakan merek lokal.

Selasih sendiri adalah rempah-rempah lokal, tepatnya Asia karena juga dikenal di negara-negara Asia lainnya, sebab biji-bijian warna hitam ini adalah biji dari tanaman kemangi. Bahasa Inggrisnya selasih adalah basil seeds.

Jangan membayangkan kelas John ini seperti kelas di sekolah yang formal. "Pak guru" yang satu ini sering melontarkan lelucon-lelucon agar pelajarannya bisa lebih mudah dimengerti. Hanya saja, bahasa campur-campur John cukup membingungkan beberapa peserta. Bukan hanya menggunakan bahasa Melayu, Inggris, dan Kanton, tapi juga istilah-istilah di dunia masak-memasak profesional.

"Shallot apa sih? tanya seorang peserta kepada peserta di sampingnya. Yang ditanya mengangkat bahu karena sama-sama bingung. Padahal shallot adalah bumbu masak yang paling sering digunakan di masakan Indonesia, yakni bawang merah.

Untungnya John cepat tanggap soal masalah bahasa ini. Jadi sebelum mencemplungkan sebuah bumbu atau bahan baku ke dalam wajan atau adonan, dia menunjukkan bentuk fisiknya dulu ke peserta, sehingga mereka bisa menemukannya di supermarket di Indonesia. John juga menunjukkan merek yang dia gunakan, bukan sebagai ajang promosi tapi agar peserta lebih mudah mencari bahan-bahan tersebut.

Untuk menambah pengetahuan soal masak-memasak makanan China ini, para peserta membayar Rp 280.000/ orang. Harga itu belum termasuk pajak lho. Namun mahal-tidaknya harga itu adalah sesuatu yang relatif. Bisa jadi mahal, murah, atau sesuai dengan imbal balik yang diperoleh.

Untuk biaya yang dibayarkan itu, peserta cooking class di JW Marriott Jakarta selain memperoleh pengetahuan juga memperoleh satu set makan siang di Pearl Chinese Restaurant. Siang itu peserta dijamu dengan 7 macam menu yang enak dan membuat kenyang. Setara lah dengan biayanya. (AC Pingkan)


 

Share :                
A   A   A
Beri komentar :
Nama
Email
Komentar
Kode
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.