

Bogor, Warta Kota
Tiga remaja Indonesia, yang semuanya baru berusia 17 tahun, yang aktif mempromosikan hak-hak anak, Jumat (23/7), mendapatkan penghargaan sebagai pemimpin remaja yang digagas oleh Unicef, kata Unicef Communication Officer, Regi Wirawan.
Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar.
Regi Irawan dalam surat elektroniknya mengemukakan, para remaja ini memperoleh penghargaan tahun 2010, yang diberikan sebagai pengakuan atas kepemimpinan dan komitmen untuk mencapai persamaan hak-hak bagi anak di Indonesia.
Charles Octoriano Seran dari Kupang, Nusa Tenggara Timur; Mulyadi dari Payakumbuh, Sumatera Barat; dan Ni Putu Maitri Nara Suari dari Denpasar, Bali telah menunjukkan dedikasi mereka, pengaruh, dan inovasi dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong perubahan sosial baik di dalam sekolah maupun di masyarakat sekitar mereka melalu partisipasi aktif mereka dalam forum anak.
Sebelumnya, sebagai bagian dari peringatan Hari Anak Nasional di Taman Mini Indonesia Indah, para pemenang juga mendapatkan penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
"Penghargaan ini adalah pengakuan dari segala usaha yang dilakukan oleh anak-anak sehari-hari bagi bangsa dan teman-teman sebaya," kata Kepala Perwakilan Unicef di Indonesia, Angela Kearney.
"Hubungan yang aktif antara anak-anak, remaja, dan mereka yang bertanggung jawab akan pengambilan keputusan atas namanya tersebut sangat penting jika kita ingin memastikan hak setiap anak ditegakkan," kata Kearney lagi
Penghargaan tahunan ini juga didukung oleh Bank CIMB Niaga, sebagai bagian dari komitmen perusahaan tersebut dalam membantu kerja Unicef bagi anak-anak dan remaja di Indonesia.
Pada acara tersebut turut diumumkan keberhasilan pemerintah daerah dalam meningkatkan perlindungan anak, di mana Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memberikan penghargaan kepada 51 Bupati dan Walikota yang telah menerbitkan Perda Akta Kelahiran Bebas Bea di daerahnya.
Penghargaan tersebut merupakan bagian dari usaha pemerintah pusat untuk mendorong pemerintah daerah agar memasukkan isu perlindungan anak, termasuk akta kelahiran gratis, dalam rencana pembangunannya.
Menurut Regi Wirawan, Charles Octariano Seran dinilai telah menjadi pelopor dalam pendirian forum anak di Kupang. Dia merupakan kunci dari koordinasi pada Konferensi Anak tingkat provinsi tahun 2009 dan menjaring banyak anggota-anggota baru ke dalam forum tersebut, serta memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kesadaran akan hak-hak anak.
Mulyadi adalah ketua Forum Anak Kota Payakumbuh. Dia telah secara terus-menerus mengkampanyekan anti-tembakau di sekolah dan lingkungannya, melakukan dialog dengan pemerintah setempat mengenai peraturan-peraturan daerah yang berkaitan dengan rokok dan anak-anak.
Dia juga secara aktif telah mendorong guru-guru dan teman-temannya untuk tidak merokok di depan anak-anak, serta mengajak rekan-rekan sebayanya untuk tidak menghadiri acara-acara yang disponsori oleh perusahaan rokok.
Sedangkan Ni Putu Maitri Nara Suari (17) adalah perambah internet, tidak pernah jauh dari komputer jinjing nya di mana dia menulis esai, penelitian, blogs, mengirimkan tweets, dan memutakhirkan akun jejaring sosialnya, yang mana semuanya untuk mempromosikan hak-hak anak.
Dia merupakan Duta Anak pada Kongres Anak 2009 dan juga anggota dari Forum Remaja pada Konggres Internasional HIV dan AIDS di Bali. Dia sekarang adalah ketua komisi pengembangan jejaring pada Forum Anak, Bali. (Antara/ink)

Istana Minta Maaf, Penoyor Bukan Paspampres
Paspampres Toyor Anak 9 Tahun di Hari Anak