
Palmerah, Warta Kota
TIM Pembela Korban Anand Krishna (TPKAK) menuding guru spiritual itu mencoba mengalihkan opini publik kasus dugaan pelecehan seksual yang kini menjerat dirinya. Anand mencoba mengalihkan isu adanya tekanan dari kaum mayoritas kepada kaum pluralis terkait kasus ini.
"Seakan-akan para pelapor adalah kaum mayoritas yang tidak suka atas kaum minoritas (Anand)," ucap Agung Mattauch, koordinator TPKAK saat jumpa pers di Jakarta, Sabtu (6/3). Ikut hadir dalam jumpa pers dua korban pelecehan Anand, Tara Pradiptha Laksmi dan Sumidah serta beberapa kuasa hukum lainnya.
Agung mendapatkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa Anand mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada sejumlah tokoh nasional yang menyebutkan bahwa pihak korban mencoba menekan kaum pluralis dengan isu pelecehan seksual. Padahal, para korban Anand kebanyakan justru berlatar belakang dari kaum minoritas.
Menurut Agung, SMS itu dikirimkan Anand kepada Gubernur Bali Made Mangku Pastika, mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafii Ma'arif, dan mantan Ketua BIN Hendropriyono. Anand juga mengirimkan SMS yang sama kepada pemimpin lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berideologi sama dengan Yayasan Anand Ashram (YAA).
Agung tidak mempermasalahkan kegiatan spiritual yang diajarkan pria keturunan India tersebut. Yang dipersoalkan adalah dugaan penyimpangan perilaku yang dilakukan Anand. "Kami yakin tokoh-tokoh itu tidak akan intervensi dugaan kasus pelecehan yang dilakukan Anand," katanya.
Kasus berlanjut
Agung yakin kasus dugaan pelecehan seksual yang menjerat Anand akan dilanjutkan ke tahap penyidikan di kepolisian. Keyakinan itu didasari oleh bukti-bukti yang telah disampaikan kepada penyidik. "Kami yakin 100 persen bukti yang kami sampaikan lebih dari cukup," ucap Agung.
Selain keterangan para korban, pihaknya juga telah menyerahkan bukti tertulis berupa surat elektronik, SMS, dan beberapa bukti lain yang berisi adanya hubungan spesial antara Tara dengan Anand serta video.
Saat jumpa pers, Agung memperlihatkan video rekaman saat Ketua YAA Maya Safira memberikan pengarahan kepada puluhan murid berumur 12 tahun hingga 25 tahun. Video itu diambil saat acara YAA di padepokan Anand di Ciawi, Bogor, Maret 2009.
"Mereka bikin acara setiap musim liburan, misalnya libur sekolah dan Natal. Maya mendoktrin muridnya agar apa pun permintaan guru kepada murid harus diberikan," kata Theresia Purba, anggota TPKAK.
Pihak Anand sebelumnya meyakini bahwa polisi tidak akan melanjutkan kasus pelecehan seksual karena bukti-bukti yang disampaikan tidak kuat.
Seperti diberitakan, polisi sedang memproses kasus itu dengan meminta keterangan sejumlah saksi, baik dari pelapor maupun terlapor, serta mengumpulkan barang bukti. Polisi akan melakukan gelar perkara untuk menentukan apakah Anand dapat dijerat pasal pelecehan seksual.
"Yakin (proses hukum) tidak akan berlanjut jika melihat bukti. Namun, tanpa mengurangi kewenangan penyidik," ucap kuasa hukum Anand Darwin Aritonang saat jumpa pers di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat.
Ikut hadir dalam jumpa pers adalah Anand Krishna, Maya Safira, dan pengurus yayasan lainnya. Hadirnya Anand dalam jumpa pers itu merupakan pertama kali pascakasus pelecehan mencuat ke publik. Sebelumnya, hanya pengurus yayasan yang melakukan klarifikasi kasus Anand.
Darwin mengatakan, jika kepolisian nantinya memutuskan tidak melanjutkan proses hukum terhadap Anand, pihaknya hingga saat ini memutuskan tidak akan melakukan proses hukum kepada Tara ataupun Sumidah. "Kami tidak akan melakukan pelaporan balik," ucapnya.
Dalam jumpa pers itu, Anand mengaku tidak mengetahui motif Tara serta Sumidah melaporkan dugaan kasus pelecehan seksual ke Komnas Perlindungan Perempuan dan Polda Metro Jaya. Menurut dia, tidak ada masalah sebelumnya antara dirinya dengan kedua orang itu. Namun, kata Adnan, Tara pernah mengungkapkan kepadanya bahwa ia tengah stres lantaran ada masalah keluarga. Sebelumnya, pihak Anand juga pernah mengungkapkan bahwa Tara mengirimkan pesan melalui akun facebook milik Anand dan pengurus yayasan lain mengenai masalah keluarga tersebut. Kepada mereka, Tara meminta agar dibantu mengatasi masalahnya. (get/Ant)